Archive

Archive for the ‘Artikel’ Category

Indomie real meat

Advertisements

Kesan Orang Jepang Naik Bandros

Percakapan pendek saya tentang Bandros dengan orang Jepang ini terjadi dua mingguan yang lalu. Penting nggak penting untuk ditulis rasanya –Oke, hati saya mengatakan ini SANGAT PENTING– tapi saya sudah terlanjur berkata, nanti saya sampaikan pada Walikota. Ya, karena kalau hanya sampai pada saya tidak akan jadi apa-apa.  Saya tidak punya bawahan yang bisa saya perintah untuk memperbaiki pengelolaan Bandros. Jadi, semoga saran ini dibaca Pak Walikota dan dinas yang terkait dengan Bandros ini bisa melakukan perbaikan.

“Bagaimana kesannya naik Bandros?” tanya saya.

“Bahaya!” jawabnya. Tentu sebagai orang Bandung bukan jawaban ini yang saya inginkan. “Seharusnya kabelnya ditinggikan atau kalau tidak tinggi busnya dikurangi,” jelasnya.

“Bukannya ada petugas yang menyuruh menunduk kalau ada kabel?”

“Ya, tapi tetap saja itu bahaya.” Tegasnya dan kemudian dia kembali mengulangi sarannya mengenai tinggi kabel yang harus ditambah atau tinggi bus yang harus dikurangi.

Ah, ya memang begitu cara berpikir orang Jepang pada keselamatan. Mungkin kalau orang Indonesia lebih cenderung berpikir ‘kita harus lebih hati-hati’, padahal kecelakaan yang dikhawatirkan teman saya itu pernah terjadi. Teman saya pun memperlihatkan wajah ngeri saat saya ceritakan kecelakaan tersebut.

Selain itu, dia pun mengeluhkan tidak jelasnya dimana harus menunggu, di mana harus naik dan dimana harus bayar.

“Seharusnya petugasnya menggunakan rompi, teman saya yang orang Indonesia saja bingung, apalagi orang asing,” ungkapnya.

“Ya, nanti saya bilang sama Walikota!” ujar saya. “Mau naik Bandros untuk yang kedua kalinya?” tanya saya.

“Tidak!” Jawabnya tegas.

Saya sendiri hanya pernah naik Bandros sekali, itu pun saat ada di kandang, bukan yang sedang jalan karena saat itu pengoprasiannya dihentikan akibat kecelakaan. Saya pikir saran teman saya tentang keselamatan Bandros perlu ditampung agar pengelolaannya bisa lebih baik lagi.

Sekian dan terima kasih.

Categories: Artikel Tags: , ,

Ridwan Kamil bukan Tuhan

Siapa yang meluas dan menyempitkan rezeki manusia? Ridwan Kamil? Pasti tidak setuju kan. Ridwan Kamil bukan Rabb (pengurus / pemelihara)-nya manusia. Dia manusia biasa yang diberikan amanah untuk mengurus kota bernama Bandung.
Setelah beberapa bulan menjabat, rasanya isu yang mulai terasa gerah muncul juga dengan kehadiran peraturan yang melarang belanja di PKL di zona merah. Orang-orang mulai terusik urusan perutnya. Sebenarnya, kalau untuk saya apa susahnya taat dengan peraturan ini. Kalau tidak boleh beli di situ ya sudah ikuti. Selesai. Saya tidak akan mati gara-gara tidak bisa beli barang di PKL zona merah. Namun, banyak orang menaruh simpati pada nasib para PKL. Bagimana mereka hidup, bagaimana mereka makan, bagaimana anak-anak mereka sekolah dan seterusnya…. Kenyataannya saya rasa mereka masih hidup, masih bisa makan, dan mungkin juga anak-anaknya masih sekolah.
Jika mau hitung-hitungan seperti itu, maka pada siapa saya harus protes? Walikota? Presiden? Pak M. Nuh? Terus terang saja, cerita ini mungkin tidak baik untuk diceritakan oleh seorang guru. Mengapa? Karena cukuplah murid tahu kalau kita ada disaat mereka sedang belajar dengan kita. Apakah dapur guru itu mengepul atau tidak itu bukan urusan murid. Jadi sebenarnya saya pun agak tidak enak menceritakan ini, tapi siapa tahu jadi bahan pemikiran.
Saat awal-awal menjadi guru honorer (sampai sekarang masih honorer) saya ingat saya selalu mengeluhkan perbedaan gaji PNS dan honorer yang jomplang minta ampun, padahal sama-sama guru. Sampai saya menyadari bahwa bayaran saya berdiri selama satu jam pelajaran itu tidak jauh berbeda dengan tukang becak yang mengayuh becaknya, bahkan lebih sedikit lagi mungkin, karena umumnya tukang becak tidak mengayuh becaknya selama 45 menit untuk mengantarkan pelanggannya, bukan? Miris rasanya menyadari harga saya yang lulusan S1 ternyata sama dengan tukang becak. Mungkin dibandingkan dengan PKL, gaji saya masih lebih kecil. Lalu bagaimana saya hidup? Ternyata saya masih hidup, masih bisa makan, masih bisa mengajar, masih bisa ini dan itu. Mengapa? Karena pengurusan saya itu ada pada Tuhan, bukan seorang Ridwan Kamil, SBY, atau Pak Mentri. Dengan cara-cara tidak diduga Tuhan tetap memberikan saya rezeki.
Jika Anda percaya hanyalah Tuhan yang memiliki wewenang untuk meluaskan dan menyempitkan rezeki, itu artinya Ridwan kamil adalah seseorang yang Tuhan hadirkan guna terjadinya proses penyempitan rezeki itu. Namun, jika Ridwan Kamil adalah orang yang berbuat kerusakan dalam sistem keadilan Tuhan, maka saya pikir kita telah diberi contoh dari kasus walikota Bandung sebelumnya. Mungkin itulah juga yang akan dihadapi Ridwan Kamil kalau dia tidak amanah. Karena itu, sebelum menunjuk orang bersalah maka kita perlu cek diri kita… sebenarnya saya salah tidak selama ini sih berjualan di tempat yang memang bukan menjadi hak saya untuk berjualan? Tanyakan pada diri Anda sendiri… kalau Anda ngeyel dan berpikir… ah pira oge jualan dan teu maehan batur… maka coba pikirkanlah baik-baik… Seandainya ada kebakaran atau ada kecelakaan lalu mobil pemadam susah lewat karena kesemrautan yang Anda buat dan karena itu nyawa orang tidak terselamatkan… bukankah secara tidak langung Anda ada dalam tanggung jawab itu. Sebenarnya saya tidak perlu mengatakan seandainya, karena saya sendiri pernah melihat bagaimana mobil pemadam terjebak macet dan kendaraan-kendaraan tidak segera menepi, bahkan mereka terus melaju seolah tidak peduli. Apakah Anda bagian dari mereka yang tidak peduli?
Ingat Tuhan itu mencatat sampai yang terkecil, saat Anda jualan dan buang sampah sembarangan saja, itu ada itung-tungannya. Jadi jangan terus berteriak keadilan tanpa bertanya pada diri sendiri apakah saya sudah adil? Apakah saya sudah memperhatikan hak orang lain?
Rezeki Tuhan itu luas, selama Anda mau berpikir dan berusaha dan tentu berbuat kebaikan. Semoga Anda semua disayang Tuhan.

Categories: Artikel Tags: ,

Menghening Sejenak Dimulai!

sejenak-hening

Setelah beberapa lama hilang nafsu sama buku, eh nemu buku bagus yang menenangkan selera. Sepertinya penulisnya orang terkenal, sayang saya nggak kenal. Adjie Silarus nama penulisnya, sejenak hening judul bukunya. Entah kenapa waktu lihat beberapa kalimat di buku itu, kayaknya saya bakalan suka deh. Eh…ternyata setelah dibaca bukunya membuat saya mengingat peristiwa yang ingin saya tulis sekarang. Dengerin yah!

Pada suatu siang menjelang sore, di suatu hari dan tanggal yang saya lupa, tetapi masih sangat saya ingat lokasi kejadian dan suasana hati yang menyelubungi saya saat itu, yaitu di sebuah masjid dengan suasana hati kacau balau amburadul benang kusut gusar lelah saya menyendiri. Setelah sholat, saya pun menghampiri sebuah kotak amal. Saya sering mendengar kalau orang yang bersedekah itu nantinya akan dilipat gandakan. Namun, permintaan saya saat itu pada Tuhan bukan itu.

Dengan redaksi yang agak berbeda dengan saat kejadian itu terjadi, kira-kira seperti ini kalimat saya.

“Allah, saya tidak meminta uang ini dilipatgandakan. Saya hanya ingin ketenangan!”

Pada saat itu kepala saya benar-benar seperti benang kusut yang sulit diurai. Saya tidak sedang  terbelit hutang, atau pun tidak dalam kondisi putus cinta. Ini hubungan yang yang lebih mesra antara saya dan Pemilik sejati saya. Walaupun ustadz Mansyur sering berceramah tentang mukjizat sedekah, tapi saat seandainya Tuhan langsung mendatangkan berkali-kali lipat pun uang dihadapan saya, saya sedang tidak membutuhkannya. Saat itu saya hanya butuh ketenangan.

Sekarang Tuhan telah mengabulkan permintaan saya itu. Benang kusut yang membelit dan mencekik ini kini telah terurai, gusar dan lelah pun yah… hanya sekedar saja agar saya tetap normal sebagai manusia.

Lalu kini, setelah Tuhan memberikan ketenangan yang sungguh luar biasa itu, saya pun mulai kembali digusarkan oleh hal lain. Saya jadi orang normal lagi, jadi orang kebanyakan lagi. Mulai cemas dan resah memikirkan masa depan, apa yang harus dilakukan? Apa hidup saya akan terus begini?

Jep!

Heninglah sejenak! Sejenak Hening!

Sebenarnya saya terkadang berada dalam kondisi hening, tapi pagi ini saat membaca buku Adjie Silarus-Sejenak Hening dalam damri tua saat menuju perjalanan ke sekolah, senyuman di bibir pun menghiasai wajah saya. Banyak yang saya telah ingat-lupa, ingat-lupakan. Saya pun diingatkan kembali akan permintaan saya dulu pada Allah yang telah dikabulkannya. Tidak bahagiakan saya dengan karunia besar-Nya itu? Saat saya berfokus pada saldo tabungan yang tidak juga melompat indah…..

memangnya ingin beli apa? Mau menikah sekarang?

Nggak sih, ya cuma buat masa depan aja…

Akhirnya saya pun hidup melompat ke masa depan, memikirkan masa depan hingga sering meninggalkan masa kini. Terkadang lupa bahwa semangatnya murid-murid saya bila mereka lulus huruf Hiragana adalah hal yang indah yang harus saya nikmati.

Buku Hening sejenak membawa kembali memori-memori pikiran baik saya menghadapi hidup ini. Rasa syukur yang terkadang saya mulai lupakan. Menertawakan diri sendiri yang resah tidak karuan dan sia-sia.

Hari ini terasa aneh…

Mengalir begitu saja…

Rapat yang biasanya membosankan, saya coba atasi rasa bosan itu, walau tetap menguap, tapi setidaknya saya tidak merasa lelah karena bosan saja.

Isi rapat yang ternyata membuat saya ngahuleng…dengan jobdesk guru yang ditambah dengan penelitian, padahal tanpa itu pun kami sudah banyak yang harus dikerjakan, tapi hal itu tidak membuat saya mengkal hati atau pun menggerutu berlebihan.

Ke bank, mesin printnya bermasalah, saya tunggu, santai saja tidak terburu-buru.

Naik Trans Metro Bandung, harus berdiri… ya sudahlah…untunglah bisa hanya 1 jam.

Pulang ke rumah, biasanya karena lelah tidak minat bantu ibu masak, tapi hari ini masih bisa potong-potong sayur, tidak ada perasaan lelah itu, seperti tidak baru pulang dari perjalanan jauh.

Pikiran baik menuntun saya untuk melakukan hal baik yang saya lupakan: membuat to do list.

Salah satu poin di to do list saya pun membuat saya tidak menunda apa yang harus saya kerjakan hari ini: Membaca program untuk teacher training.

Lalu, yang biasanya sudah tidak mampu melakukan apapun di malam hari,  saya sekarang masih di depan laptop dan menulis tulisan ini.

Yeah, Malam ini akhirnya bisa minus nonton TV. ^^

Ketenanganlah yang membuat hari ini berjalan tenang.

Ya, Allah terima kasih permintaan saya telah dikabulkan. Maaf kalau sering lupa berterima kasih pada nikmat-nikmat yang sering tidak disadari.

Oh iya, plus tenang menghadapi komentar di Facebook dan Twitter ^^

Selamat malam.

Selamat tenang.

Selamat hening.

Categories: Artikel Tags: ,

Kecewa Melihat Walikota Bandung ada di acara YKS.

Yuuuk Keep Smile! Yang ada saya hanya bisa seuri maur!

Apa-apaan walikota ada di acara itu? Program televisi yang tidak pernah saya tonton, kecuali tidak sengaja tertonton saat sedang ganti-ganti channel.

Insya Allah tulisan berbau kritik ini saya buat bukan untuk memojokan walikota, tetapi untuk memberikan pandangan dengan maksud membangun.

Apa yang salah dengan acara YKS?

Jujur saya tidak tahu salahnya di mana karena saya tidak pernah menonton acara itu, tapi yang jadi masalah bagi saya justru lagu dari tarian Caisar itu.  Musik tarian itu diambil dari lagu Juwita Bahar yang   berjudul  “rok mini”. Untuk lirik lagunya silahkan google sendiri. Namun dalam lagu itu -entah termasuk liriknya atau tidak- dikenal kalimat “buka sikit jos!” Apa maksud kalimat ini bila dikaitkan dengan rok mini? Jika orang-orang bilang “ah itu mah kamu aja yang ngeres!” maka tolong katakan apa yang menjadi deskripsi/ imajinasi dari kalimat itu?

Awalnya saya biasa saja saat menyaksikan Pak Walikota menyapa warganya, tapi ketika disuruh menarikan tarian Caisar itu… Halah! Nggak tega lihatnya…Apa-apaan sih? Kenapa pula TV itu nyuruh walikota nari?  Saya lebih baik melihat Pak Walikota senam SKJ dengan Pak Dahlan Iskan.

Jujur saja tulisan ini bersifat subjektif, karena saya memang tidak tertarik dengan acara YKS. Baik saat namanya masih Yuk Kita Sahur atau saat sekarang menjadi Yuk Keep Smile. Saya tidak tahu unsur edukasi dari acara itu selain hanya untuk acara hiburan semata. Jika acara seperti ini tetap dikukut/ dipelihara…dan tetap dinikmati begitu saja oleh masyarakat, berat rasanya membangun Bandung Juara, Bandung Smart City dan sebagainya. Rasanya menonton kehidupan binatang di Kompas TV lebih bermanfaat di banding acara yang tidak jelas konsep dan tujuannya. Menghibur itu tetap harus mengedukasi. TV harus mempunyai tanggung jawab juga terhadap masa depan generasi bangsa.

Sekali lagi, tulisan ini hanya sekedar kritik yang Insya Allah semangatnya membangun, bukan untuk menurunkan semangat walikota untuk membangun kota Bandung. Saya masih tetap menyimpan harapan untuk kota ini dan tetap mendukung Pak Walikota untuk menjadikan Bandung Juara. Semoga Pak Walikota sehat selalu…Kemarin lihat di acara itu saya lihat Bapak sudah mulai hilang suara. Jaga Kesehatan ya Pak!

Salam Bandung Juara!

Categories: Artikel Tags: , ,

BAGAIMANA KALAU RIDWAN KAMIL PUN PENDUSTA???

ridwan

Saya ingin menulis dengan santai saja maka saya harap kalian pun membacanya dengan santai.

Saya ini tidak terdaftar secara resmi sebagai relawannya Ridwan Kamil. Setiap kali melihat form pendaftaran bingung karena tidak punya komunitas dan tidak tahu apa yang bisa saya konstribusikan pada Kang Emil, kemampuan saya hanya sekedar share info di facebook sehingga salah satu murid saya pun bertanya, “sensei ngefans yah sama Ridwan Kamil?”

Ngefans? Hehehe… kalau ditanya fans-fans-an saya suka sekali nasehatnya Patrick Star pada Spongebob (di cerita yang Spongebobnya jadi fans kelompok penangkap ubur-ubur yang diketuai  oleh Kevin itu loh) yaitu: MEMPUNYAI IDOLA ITU TIDAK SEHAT.  Mengapa? Karena kalau sudah mengidolakan biasanya sudah tidak bisa objektif lagi. Jadi saya pun menjawab kalau saya tidak mengidolakan Ridwan Kamil, saya hanya coba mempercayakan suara saya pada Beliau, dan berharap Beliau amanah terhadap apa yang saya percayakan padanya.

Rasa suka dan tidak suka adalah hal yang biasa, jadi kalau ada orang-orang yang ragu pada Ridwan Kamil pun yah wajar-wajar saja. Untunglah saya tidak ngefans sama Ridwan Kamil, jadi tidak merasa kecewa, tersakiti, galau, atau …’ih kok gitu banget sih ngomentarnya’ setiap kali membaca komentar-komentar dari orang yang tak mendukung Beliau. (Hehehe beda dengan beberapa tahun yang lalu saat saya menyukai SUJU. Kalau ada yang ngomong jelek tentang SUJU pasti saja langsung merasa terzalimi J…aib masa lalu hehehe… ih kok jadi ngomongin masa lalu gini).

OK, kembali ke Kang Emil… Setelah saya membaca komentar-komentar orang-orang yang ragu pada Ridwan Kamil, saya pikir itu hal yang lumrah. Harus saya akui Ridwan Kamil dulunya hanya terkenal di komunitasnya saja. Saya juga baru tahu Beliau dari acara STV…(Solusi Ridwan gitu namanya… lupa). Walaupun Kang Emil sekarang menjelaskan program-program beserta solusi-solusi kongkritnya dengan bantuan animasi yang keren, tetapi orang-orang yang sudah jengah dengan janji-janji kampanye para politikus pun langsung memukul rata bahwa Kang Emil pun sama saja dengan para politikus tersebut. Wajaaaaaaar!!!! Dari pemilihan presiden, gubernur, walikota, bupati… rakyat memang sering disajikan begitu banyak janji manis yang berakhir pahit. Maka kami (termasuk saya)akhirnya skeptis pada program apapun yang mereka umbar.

Sekarang Kang Emil pun menjanjikan hal yang sangat manis bin kareueut. Maka sangat wajar kalau ada banyak opini yang akan berkata… ah… janji-janji kosong! Kalau sudah naik pasti lupa sama janji kampanye atau seperti komentar teman saya “asal jangan sampai Bandung untuk Ridwan Kamil aja”. Ya, sepertinya rakyat Indonesia sudah benar-benar kehilangan selera untuk menemukan pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Nah saya pun jadi kepikiran… bagaimana kalau memang begitu jadinya… bagaimana kalau nantinya Ridwan Kamil yang saya percaya pun menjadi pendusta?  Jangan-jangan Ridwan Kamil juga sama saja? Tak lama kemudian saya pun tertawa sendiri.  Hehehe… bukankah selama ini pun kita sudah imun didustai… jadi sebenarnya nothing to lose juga (pendapat pribadi ya ini…) kalau memang sama saja… ya sudahlah… sudah biasa ini toh. Paling nantinya Ridwan Kamil dihujat habis-habisan. Saya? Ya ikutan menghujatlah, bareng  keluarga membuat paduan hujatan kalau Ridwan Kamil nongol di TV. Saya kan bukan fansnya ^^ Nah…yang jadi masalah adalah sebaliknya… kalau ternyata Beliau memang benar-benar berniat merealisasikan janji-janjinya (Ya…walaupun hal ini hanya Allah dan Kang Emil sendiri yang tahu)…dan kita malah tidak memilihnya hanya karena sebuah prasangka buruk… kita tidak akan merasakan kesan baru yang lebih baik dalam kepemimpinan kota Bandung.

Jadi buat saya pemilu ini nothing to lose. Kalau Ridwan Kamil sama saja seperti yang dulu-dulu… ya sudah, toh bumi juga masih berputar… Allah pun masih ngasih saya akal buat mencari rejeki.  Namun, apa salahnya mempunyai harapan? Siapa tahu bisa lebih baik? Pikiran seperti itu lebih baik untuk saya dan rasanya tak ada ruginya juga.

Hehehe sebagai bukti saya bukan fansnya Ridwan Kamil… saya punya unek-unek yang sebenarnya ingin saya tulis dari dulu (tapi entah kenapa waktu itu males banget) yaitu saat saya melihat stiker Ridwan Kamil dan Oded ditempel sembarangan… stiker adalah bentuk atribut yang paling saya tidak suka karena kalau sudah menempel ditembok berbekas.. jadinya kotor. Waktu pemilihan gubernur saya pernah menulis soal atribut kampanye yang mengotori kota… ternyata itu pun terjadi sekarang.  Semoga para relawan membersihkan sebersih-bersihnya…

Tak lupa juga saya sampaikan rasa terima kasih saya pada Pak Jokowi yang mengajarkan blusukan sehingga kampanye sekarang pun para calon walikotanya yang harus sibuk menemui rakyat bukan lagi mengumpulkan masa untuk dangdutan.

Tulisan ini hanya sekedar opini pribadi. Keputusan tetap ada di tangan Anda ^^

Categories: Artikel Tags: ,

Reading Text Bahasa Korea dan Al-quran

Pagi!

Beneran loh saya ngetik ini pagi-pagi. Saat saya sedang mencoba menerjemahkan teks bacaan soal tes bahasa Korea. Tiba-tiba saya menemukan sebuah pemikiran, sebuah alasan mengapa Al-quran sering mengatakan dirinya adalah CAHAYA.

Saya coba terjemahkan teks soal TOPIK (Test of Proficiency in Korean) level Intermediate ke-25  soal no. 55~56.

Apakah alasan yang membuat penderita depresi meningkat saat malam semakin larut? Ketika tubuh kita tidak cukup mendapatkan cahaya maka akan sangat mudah terkena depresi. Hal ini terjadi karena otak sangat membutuhkan cahaya untuk membuat hormon yang mengatur suasana hati. Namun, pada penyakit depresi, walaupun dipancarkan cahaya yang terang pada telinganya, mereka dapat menolaknya.  Tim peneliti sebuah universitas melalui penelitiannya menemukan fakta bahwa apabila bagian dalam telinga disinari cahaya maka hal itu dapat mencegah depresi.  Otak manusia begitu peka terhadap cahaya sehingga apabila telinganya disinari cahaya maka akan terbentuk hormon. Berdasarkan penelitian ini dibuatlah earphone yang bisa mengeluarkan cahaya. Kenyataannya, pasien-pasien yang menggunakan earphone ini selama 8-12 menit setiap hari dalam sebulan,  suasana hati mereka yang depresi pun menghilang.

Nah, itulah mungkin alasannya mengapa mendengarkan Al-quran bisa menghilangkan depresi, karena setiap mendengarkan Al-quran berarti telinga kita sedang dipancarkan cahaya walaupun kita tidak pakai earphone yang  dibuat peneliti di atas. Namun, terima kasih atas penelitiannya yang berguna bagi pencerahan kita terhadap pengetahuan tentang Al-Quran.

Jadi harusnya yang baca Al-quran tidak usah galau lagi ya? Dan menutup telinganya pada Al-quran sama artinya dengan menolak cahaya…nah kalau sudah menolak cahaya tersebut  maka mungkin akan sulit sembuh dari depresi.

Semoga bermanfaat!

Teruslah meneliti!

Categories: Artikel Tags: , ,
%d bloggers like this: