Home > CERITA > INSIDE – EXO Fiction Story

INSIDE – EXO Fiction Story

Yang berminat untuk membaca cerita ini, silahkan meluangkan waktu karena ceritanya lumayan panjang.

Disclaimer: Dilarang copy-paste cerita! Jika ingin men-share cerita ini cukup dengan men-share linknya saja. Thank you! Kamsahamnida!

INSIDE

 

Reuni Dua Belas Orang TEMAN

 

EXO FICTION STORY

by: Irannosaurus

exosm

Jeritan-jeritan para remaja wanita yang tidak aku mengerti bahasanya ini begitu memekakan telingaku. Jeritan mereka tidak hanya menggetarkan daun telingaku yang serasa membeku karena kedinginan, tapi gendang telingaku pun tersiksa. Teriakan mereka merangsang otakku untuk memerintahkan mataku memincing untuk bereaksi terhadap suara-suara anak ABG di sekelilingku. Ah apa pula yang sedang aku lakukan di sini? Memegangi HP sambil merekam adikku yang tengah menanti rombongan pria yang berpenampilan…..hemh…. yah mereka orang Korea.

  “OPPA! OPPA!” Teriak anak perempuan di sampingku. Kemudian, satu persatu mereka mengabsen nama-nama Idola mereka dengan suara yang melengking. Dan begitu orang yang mereka panggil oppa itu keluar dari mobil van-nya sambil tersenyum manis. “WAAAAAAAAAAA!”

EDAAAAAN! Aku tidak tahu tingkat desibel jeritan perempuan bisa menyamai konser musik rock. Di tengah gempuran jeritan, teriakan, pekikan, tangisan, dan suara-suara yang tidak aku mengerti bahasanya itu, aku tetap bertahan untuk memenuhi permintaan adikku, memfokuskan kamera HP-ku ke arahnya. Dia ingin punya video dirinya dengan anggota EXO katanya. Dia merajukku mati-matian saat mengutarakan keinginannya itu padaku.

“Ngapain sih, De?” ketusku. “Di sekolahin sampai ke Korea cuma buat foto sama artis Korea doang? Di Kereta juga banyak tuh cowok-cowok sipit yang cakep. Minta foto aja bareng ama mereka aja!”

“Kak, tetangga kita juga cakep, kenapa kakak malah cari Afgan!” Balasnya.
Aku hanya bisa menghembuskan napas, tak tahu harus melawan dengan kalimat apalagi. Ternyata aku juga sama saja. Aku baru sadar.

“Kak, aku janji, nanti aku hadiahin kakak nilai yang bagus semester ini!” bujuknya.

“Emang mau nilai segede apalagi? Nilai kamu emang gede terus, kan?”

Aku akhirnya menyerah pada bujukannya. Bukan karena janjinya untuk memberikan nilai bagus, tapi karena apa yang telah dia usahakan untuk tetap membuat nilainya selalu baik. Terkadang aku merasa bersalah juga membuat kehidupan kuliahnya setegang itu. Jadi kupikir tak apalah memberikannya kesenangan hidup dengan mengikuti keinginannya. Jadilah akhirnya aku harus berkerumun bersama para remaja-remaja Korea ini demi antusias masa ABG adikku ini.

Para lelaki yang digilai para remaja itu pun mulai mendekat ke arah adikku. Sekuat tenaga aku memegangi kameraku agar tidak goyang, tapi aku kaget setengah mati yang bercampur dengan kemarahan yang luar biasa. Apa yang terekam oleh kamera HP-ku bukannya anggota EXO yang sedang melambaikan tangannya pada adikku, tapi malah tangan salah satu bodyguard mereka yang memukul jidat adikku dengan keras. Aku langsung naik pitam. Kudekati sang pelaku yang keterlaluan itu.

HEY! WHY DID YOU HIT MY SISTER!” Berangku dengan mata menyala pada sang bodyguard. “SHE DIDN’T DO ANYTHING THAT CAN HARM THEM!” Lanjutku masih dengan nada penuh murka. Semua orang terdiam melihat kemarahanku termasuk anggota EXO. Mereka hanya bisa melongo seakan kebingungan entah bagaimana mereka harus bereaksi dengan kejadian yang mereka saksikan. Orang yang memukul dahi adikku itu sepertinya tidak terima dengan kemarahanku. Dia terlihat bersungut-sungut dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Untunglah aku tidak mengerti! Jika mengerti mungkin aku tidak bisa menahan diri dan bisa-bisa mengeluarkan kata kasar. Adikku masih terdiam memegangi dahinya sambil tertunduk.

Aku tidak tahu anggota EXO bisa bahasa Inggris atau tidak, tapi spontan saja aku langsung mengarahkan wajahku pada seorang anggota EXO yang berdiri di dekatku. Dia terlihat setengah ketakutan padaku. “My sister spent her money to buy your stuff, to buy your ticket concert. She doesn’t deserve to be treated like this!” Ketusku tanpa peduli siapa yang sedang aku hadapi.

I’m sorry!” Ucap anggota EXO yang kebingungan itu dengan suara lirih.

YOU! STOP THERE!” Teriakku lantang dengan tangan yang menghentikan langkah kaki saat sang bodyguard akan mendekatiku seperti berusaha menghentikanku.

I’m sorry!” Anggota EXO itu mengulang permintaan maafnya. Namun, aku tak punya waktu menatapnya saat napasku naik turun penuh dengan amarah tidak terkendali.

“KIRANA! LET’S GO HOME NOW!” Ajakku pada adikku sendiri.

“Tapi…” Ucapnya dengan berat hati. “Suho ssi! Jwesong hamnida!” Ucap adikku pada anggota EXO yang baru aku omeli. “ Uri onni neun…

Aku tidak mengerti bahasa Korea, tapi ungkapan-ungkapan sehari-hari seperti terima kasih dan maaf aku juga tahu. Dan aku tahu, adikku sedang berusaha minta maaf atas keributan yang aku lakukan. Aku buru-buru mendekati adikku dan memegang tangannya.

You don’t need to say sorry! He is the one who has to say sorry to you!” Ungkapku sambil menunjuk wajah bodyguard tadi dengan gerakan kepalaku dan tatapan mataku. Aku lalu menarik tangan adikku agar segera keluar dari kerumunan. Marahku sudah tidak kepalang, tapi adikku memang berbeda seratus delapan puluh derajat dariku. Walaupun tangan kanannya tidak bebas dari cengkramanku, tubuhnya masih saja tertarik medan magnetnya EXO. Dia tetap merapalkan kata maaf disertai raut muka menyesal yang merefleksikan isi hatinya.

Jwesong hamnida! Jwesong hamnida! Jwesong hamnida!” Dia terus mengucapkannya sampai kerumunan itu tidak lagi terlihat oleh kami.

“Udah apa, De!” Pintaku. “Denger! Kakak nggak terima ya kita diperlakukan kayak gitu! Apa gara-gara kita dari negara berkembang, mereka boleh bebas kayak gitu,”

“Mereka sama orang Korea-nya sendiri gitu kok, Kak!”

Aku langsung menghentikan langkah kakiku saat mendengarnya. Kutatap wajah adikku lekat-lekat.

“Kamu! Tahu gitu kenapa tetep maksa dateng sih!” Tandasku kecewa. Adikku hanya bisa menundukkan kepalanya setengah menahan tangis. Aku jadi tidak tega melanjutkan wejanganku selanjutnya.

Selama di dalam kereta menuju perjalanan pulang kami tidak saling bicara. Aku merasa bersalah. Sebenarnya, dulu karakterku tidak jauh berbeda dengan adikku. Tidak pernah melawan jika disakiti. Namun, kehidupan memang mengubahku. Bekerja di perusahaan ini itu, berhadapan dengan orang yang selalu memarahi kita tanpa tedeng aling-aling membuatku sikap manisku luntur. Aku jadi tegas untuk membela diri jika aku memang merasa tidak bersalah. Aku menjadi lebih jujur dalam mengungkapkan sesuatu meski aku tahu terkadang itu menyakitkan bagi orang yang mendengarnya.

“De! Maaf, ya!” Cetusku setelah kami sampai di rumah. “Kakak nggak akan minta maaf soal marahnya kakak sama bodyguard-nya mereka, tapi kakak minta maaf karena kakak tahu, kamu ngerasa malu sama sikap kakak yang urakan tadi, kan?”

“Iya!” Lirihnya. “Sebenernya aku juga nggak usah ngerasa malu juga. Tapi…”

“Kamu kepikiran ya sama yang siapa itu… si Suho bakalan pikirin tentang kamu?”

Adikku mengangguk.

“Dia udah minta maaf tadi! Tapi kakak terus aja marah! Aku jadi nggak enak!”

“Oh, ya?” Tanyaku.

Aku menghela napas panjang. Saking marahnya, telingaku tidak peka mendengar kata maaf yang diucapkan orang itu. Sekarang giliranku yang merasa bersalah pada orang yang namanya Suho itu. Tapi, apa boleh buat? Kecil kemungkinan aku bisa mengucapkan maaf secara baik-baik padanya.

“Udahlah, De! Dia juga nggak bakalan inget sama wajah kita kali. Sepenting apa emang kamu buat dia? Kamu bilang Fans mereka jutaan. Punya waktu emang mereka buang inget wajah kamu?” Jelasku enteng.

Adikku memperlihatkan wajah tidak terima dengan aku yang seolah menyederhanakan masalah ini.
***

Kenapa kalau di luar negeri bawaannya malas bangun, ya? Ini memang Minggu, tapi rasanya kalau di Indonesia di jam yang sama aku sudah selesai sarapan dan beres-beres rumah. Sekarang mungkin sedang nyemil sambil menonton film kartun.

Adikku tidak jauh beda denganku. Dia baru bangun dari kasurnya sambil menguap besar-besar! Dengan rambut yang berantakan dia mulai beranjak dari kasurnya dan mengambil minum. Dia menguap lagi yang menular padaku. Saat dia menyibakan tirai jendela, silaunya mentari langsung membangunkanku.

“Kak, nggak ada roti loh! Kita mau makan apa?” Tanyanya. Sepertinya kadar kesalnya padaku sudah berkurang berkat bantuan tidur.

“Bikin nasi goreng gih!” Suruhku.

“Yah lama! nasinya juga nggak ada!” Ungkapnya sambil menyalakan laptopnya.

“Ya udah, tar beli roti aja! Kakak juga males ini itu!” Kataku sambil mengizinkan mataku untuk terpejam lagi.

Namun, dalam keheningan pagi itu tiba-tiba…

“KAKAK!” Pekik adikku tiba-tiba saat aku baru saja kembali ke alam tidurku.

“Heuh! Apa?” tanyaku kaget.

“Kita ada di Youtube!” Lanjut adikku. Mata kami saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya aku meloncat mendekatinya dan menonton drama yang sudah kubuat kemarin. Aku melihat wajah marahku sendiri baru kusadari ternyata memang menyeramkan. Apalagi bagian saat aku membentak bodyguard yang ternyata itu adalah salah satu manajernya EXO itu. Oow!

“Idih, aku mirip pak Ahok, ya?” Candaku santai malah terkesan menikmati.

“Kakak, gimana ini?” Adikku merengek khawatir.

“Kenapa emangnya, De?” Tanyaku santai. Aku tidak ambil pusing dengan video kami yang beredar di Youtube. “Emang manajernya yang kasar, kan? Kalau dia nggak mukul kamu, kakak juga nggak akan kayak gitu. Bodyguard-nya Pak Jokowi aja nggak gitu-gitu amat!”

“Kakak, lihat dong komentarnya, mereka pada kasihan sama Suho. Manajernya yang mukul aku, kenapa kakak marah juga ke Suho?”

“Itu di luar kendali,” Cetusku ringan.
Adikku resah gelisah dengan video yang menjadi viral itu. Aku tidak mengerti mengapa adikku harus seresah itu. Aku melihat banyak komentar yang positif yang memuji keberanianku itu, walau memang banyak juga yang mengritikku karena aku memarahi orang yang bernama Suho itu. Aku lihat kembali video itu, ah memang rasanya kasihan melihat Suho. Wajahnya benar-benar tampak kebingungan. Berkat video itu aku akhirnya bisa melihat dia memang sudah meminta maaf pada kami dua kali. Tapi marah menulikan telingaku dari kata maafnya.

“Udah, De! Santai aja!” Kataku berusaha menenangkan adikku yang wajahnya terus kebingungan. “Kalau ada caranya buat minta maaf ke Suho, kakak bakalan minta maaf,”

“Masalahnya nggak ada!” Ketus adikku. “Emang kakak mau bikin video permintaan maaf di Youtube?”

“Ogah! Drama banget!” Ujarku sambil tertawa ringan. Aku masih merasa ini bukanlah hal yang besar. Bagiku, orang yang namanya Suho itu pasti akan mengerti mengapa aku marah seperti itu. Ya, itu juga kalau dia punya perasaan.

Adikku masih menatapku dengan serius.

“Udah ah! Kakak mau beli roti.”

Aku mengakhiri percakapanku dengan adikku sambil berlalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.

Adikku masih cemberut saat aku mengenakan jaket dan bersiap keluar rumah.

“Di luar bakal ada fans mereka yang tiba-tiba nimpukin kakak nggak, ya?” Candaku sambil tertawa.

“Nggak lucu!” Ketusnya.

Ketusnya adikku! Namun, aku tidak ambil pusing selama dia masih butuh uang kuliah, nanti ketusnya pun hilang sendiri. Aku pun segera membuka pintu dan pergi ke toko untuk membeli roti. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah aku keluar dari rumahku, tiba-tiba dua orang berkaca mata hitam dengan postur tubuh yang tegap mendekatiku dan berusaha bicara denganku dalam bahasa Inggris. Jujur, aku takut! Jangan-jangan mereka orangnya EXO yang akan mengancamku, menculikku, menyiksaku dan mungkin saja…

“ADEEEK!” Teriakku.

Adikku langsung berlari keluar. Melihat dua orang yang begitu tegap dengan kacamata hitam, tak pelak membuat adikku sama takutnya denganku.

Nu…nu..gu seyo?” Adikku bertanya siapa mereka dengan terbata-bata. Kedua orang itu lalu berbicara dalam bahasa Korea dengan adikku.

A, Keuraeyou? Deuroseyo!” Kata adikku yang tiba-tiba mempersilahkan mereka masuk.

“Orang dari EXO, De?” tanyaku masih tegang. Gawat! Apa ini karma?

“Iya!” Jawabnya tapi raut wajah adikku sudah mulai kalem, jadi kupikir tidak akan ada hal yang membahayakan yang akan terjadi pada kami berdua.

Adikku dan kedua orang itu mengobrol dalam bahasa Korea dan aku hanya celingak-celinguk tidak mengerti.

A, keuraeyo?” Sekali lagi adikku mengeluarkan kalimat yang aku tahu artinya, ‘oh begitukah?’

Adikku tiba-tiba berdiri lalu mengambil HP-nya dan mengeceknya.

Ne! Ne! Issoyo!” katanya lagi. Aku mencoba meraba-raba percakapan mereka. Ya, Ada. Aku mengerti apa yang diucapkan adikku. Tapi, apanya yang ada, itu yang tidak aku tahu.

“Apaan sih, De?” Tanyaku tidak sabar.

Camkanmanyo! Uri onni neun, uri ga museun yaegi hago itnenuji algo shipoyo,” Kata adikku. Kalimat panjang ini aku hanya tahu camkanmanyo-nya saja. Terusannya gelap, tidak mengerti apapun.

“Jadi, katanya temen dari temen dari temen dari temennya Suho itu temen aku di kampus. Terus, Suho minta cariin kita. Dia bilang ingin minta maaf. Pagi-pagi tadi temen aku sebenernya nelepon buat minta izin ngasih alamat kita cuma nggak keangkat. Karena orang dari EXO butuh cepet, jadi dia ngasih alamat ini tanpa minta izin. Ini aku baru baca LINE-nya. Dia minta maaf udah ngasih tahu alamat rumah ini tanpa izin katanya.” Jelas adikku sambil memperlihatkan pesan dari temannya itu. Adikku melakukan hal yang sia-sia. Aku kan tidak bisa baca Hangeul!

“Ooooh!” Sahutku seperti orang bodoh. Ah, tapi yang penting bukan hal buruk. Aku pun itu akhirnya aku bisa tenang.

Adikku lalu melanjutkan percakapannya dengan kedua orang itu.

JIGEUM!?” Adikku terpekik tidak percaya. Apanya yang sekarang? Apanya? Apanya? Aku gelap lagi. Kembali menerka-nerka. Jangan-jangan kita diminta pergi sekarang ke sana. Dan setelah aku konfirmasi pada adikku, terkaanku seratus persen tepat.

Camkanmanyo!” Potongku tiba-tiba. “Really Suho want us to go there? You’re not lying?” tanyaku pada mereka penuh rasa curiga. “Gimana, kalau kita diculik, De?” tanyaku pada adikku.

Adikku lalu menerjemahkan apa yang ingin aku tanyakan pada kedua orang itu. Mereka bilang Suho benar ingin bertemu kami. Untuk meyakinkan kami salah seorang dari mereka pun menelepon Suho agar adikku bisa menanyakan langsung pada orang yang bersangkutan. Adikku tidak percaya dia akan bicara langsung dengan Suho di telepon. Aku lihat tangannya bergetar. Dia gugup. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku hanya bisa mendengar adikku berkata, ne, ne, ne, saja.

Setelah selesai bicara dengan Suho di telepon dan mengembalikan telepon kepada sang pemilik, adikku langsung panik.

“Kakak! Kita harus langsung pergi. Mereka cuma punya waktunya sekarang!” Ceroscosnya sambil bergerak cepat ke kamar mandi.

Ajossi! Camkanmannyo!” Teriak adikku pada kedua orang yang sempat aku takuti tadi.

“Jadi rotinya?”

“Entar aja lagi!”

“Yah… padahal aku lapar…”

“Kakak udah janji mau minta maaf sama Suho!” Adikku mengingatkan sambil bergesa-gesa mencari baju hangat dan syal.

Ne! Kapsida!” Kata adikku pada kedua orang itu dengan wajah dan hati penuh keantusiasan. Melupakan rasa laparnya. Sayang, perutku tidak cukup hanya diberi sarapan EXO.
***

Selama dalam perjalanan untuk bertemu EXO, kulihat adikku berada dalam perasaan yang bercampur-aduk. Terlihat sekali wajah senangnya yang bertumpuk dengan gugup. Seperti permen berbagai rasa dia telan sekaligus. Kalau aku? Hanya satu yang aku rasa. LAPAR!

Kami akhirnya sampai di perusahaan tempat mereka bernaung. Aku merasa kedatangan kami sepertinya sedikit disembunyikan.

Tinggal beberapa langkah lagi adikku akan bertemu bintang idolanya. Wajahnya semakin tidak karuan. Dan…napasnya seolah terhenti sesaat saat akhirnya mereka bertemu muka dengan…satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan. Ya, kesembilan orang itu.

Annyeong Haseyo!” Sapa Suho.

A..Annyeong Haseyo!” sapa adikku sedikit terbata.

Annyeong Haseyo!” aku ikut menimpali.

Annyeong Haseyo!” Suho yang kemarin kuomeli menyapa balik padaku dengan senyum. Tidak kusangka aku akan bertemu orang ini lagi.

Aku sedikit ragu, apa dia benar-benar tersenyum atau karena ada kamera yang merekam kami di tempat ini.

Setelah Suho menyapa kami, anggota yang lain pun ikut menyapa kami. Aku tidak tahu nama anggota yang lain, pokoknya Annyeong haseyo saja.

Kami lalu duduk melingkar di sofa. Kamera tentu masih merekam kami dari semenjak pertama kami masuk ke dalam gedung tempat mereka bekerja. Setelah kami hening sejenak karena kikuk, akhirnya Suho mulai angkat bicara. Adikku menerjemahkan apa yang mereka katakan. Adikku seperti sedang berlatih menjadi interpreter saat itu. Begini kata mereka:

“Pertama-tama terima kasih telah bersedia datang ke tempat kami. Soal kejadian kemarin, kami minta maaf, mungkin terlalu berlebihan. Saya sudah membicarakannya dengan manajer saya. Ke depannya kami tidak akan seperti itu lagi,” Tutur Suho.

“Ah, ya!” Jawab adikku. “Aku berterima kasih atas undangan kalian dan juga ingin meminta maaf atas kejadian kemarin. Kakakku juga merasa tidak enak, dia bilang dia pun ingin minta maaf secara langsung pada kalian,”

Adikku menyikutku ringan sebuah tanda agar aku memenuhi janjiku padanya untuk meminta maaf pada Suho. Adikku bilang, Suho bisa bahasa Inggris, jadi aku pun meminta maaf padanya secara langsung tanpa perantaraan adikku.

“Terus terang, aku tidak seperti adikku. Dia anak yang manis dan sangat berhati-hati, tapi aku aku lebih senang untuk berkata jujur. Kejadian kemarin, aku hanya ingin meminta maaf karena telah memarahimu. Aku baru lihat videonya, ternyata kamu sudah meminta maaf, tapi karena aku sedang marah, aku tidak menyadarinya. Aku benar-benar minta maaf jika kata-kataku kemarin membuat kalian tidak nyaman. Terima kasih kalian pun telah berbesar hati untuk meminta maaf pada kami, bahkan mengundang kami secara langsung, tapi kalau boleh aku jujur, aku lebih menghargai andai orang yang bersangkutan langsung meminta maaf pada adikku dan tidak mewakilkannya pada kalian. Yang memukul adikku kan manajer kalian, bukan kalian.” Jelasku tanpa ragu. Mereka sedikit kikuk setelah mendengar aku mengungkapkan kalimat itu. Mungkin di kepalanya mereka berkata: Ya, ampun ini kakak belagu bener!

Mereka saling beradu pandang dengan staff yang ada di sana. Terdengar bisikan-bisikan yang tidak aku mengerti seperti sedang melakukan diskusi cepat kilat yang akhirnya menghasilkan keputusan, bahwa orang yang memukul adikku kemarin akan coba dipanggil ke ruangan tempat kami berkumpul. Adikku menatapku tidak tenang. Dia mungkin berharap aku melupakan hal itu dan menerima permintaan maaf dari EXO begitu saja.

“Jika semua urusan diselesaikan secara hukum, hidup akan sangat melelahkan, aku pikir hal seperti ini masih bisa diselesaikan dengan kata-kata dan kerendahan hati, bukankah itu lebih baik,” lanjutku. Suho –yang akhirnya aku tahu dia seorang leader– pun mengangguk-angguk. Entah dengan hati, entah hanya ingin cepat saja.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya sang tokoh utama pun datang. Dia sedikit mengangguk saat melihat kami berdua, tapi garis wajahnya masih terasa keras untukku. Dia duduk di samping adikku.

“Saya meminta maaf untuk kejadian kemarin? Apa kamu terluka?” Tanya orang itu. Adikku yang memang manis itu menggelengkan kepalanya.

“Saya tidak apa-apa!” Jawab adikku.

“Dipukul seperti itu, sakitnya memang tidak lama, tapi kenangannya akan terasa lama. Bukankah itu buruk untuk citra kalian?” Sekali lagi aku bicara tanpa tedeng aling-aling. “Aku berharap hal itu tidak terjadi lagi,” Sambungku sambil mengulurkan tanganku. Orang yang memukul adikku itu terlihat sedikit kikuk, pelan-pelan dia menyambut tanganku dan kami pun bersalaman. Aku tersenyum padanya. Perlahan tapi pasti dia pun tersenyum padaku.

“Aku minta maaf telah membentakmu kemarin!” Kataku pada orang itu. Adikku menerjemahkannya. Orang itu lalu mengangguk dan mengucapkan “Me too!” Setelah itu dia pun bersalaman dengan adikku. Acara salaman itu pun diabadikan dalam foto. Kami berdua, sang manajer, dan Suho pun berfoto manis bersama.

“Apa bisa kita bilang masalah ini telah selesai?” tanya salah seseorang anggota EXO yang bernama Chen.

“Ya!” ucapku enteng. “Karena dia sudah mau lmeminta maaf secara langsung, aku pikir sudah tidak ada masalah lagi. Tapi, kalau sampai terjadi lagi, aku menyuruh adikku membuang semua benda EXO kesayangannya itu!” Tegasku.

Mendengar itu mereka sedikit terpaku. Ah ini kakak kenapa galak banget, ya!

“Baik, kami akan mengingatnya. Syukurlah kalau hal ini sudah dinggap selesai!” Ucap anggota lain yang bernama Sehun mencoba mencairkan suasana.

“Sebagai hadiah dan juga permintaan maaf, adakah yang kamu inginkan?” Tanya anggota lain yang bernama Chanyeol pada adikku.

Adikku tersipu-sipu mendengar pertanyaan Chanyeol. Aku memandangi adikku terheran-heran. Apa yang diinginkannya. Jangan-jangan ingin dipeluk mereka. Tapi, aku tahu adikku bukan tipe genit seperti itu.

“Aku ingin melihat kalian menari!” Tuturnya.

Kami akhirnya masuk ke ruang latihan mereka dan menonton mereka menari secara langsung. Terus terang aku katakan. Aku tidak tertarik dengan mereka. Adikku sering membicarakan mereka setiap saat, tapi sering kali aku menanggapi dia seadanya. Kehidupanku tidak mengizinkanku untuk menikmati hal-hal seperti ini. Aku tidak pernah sekali pun menonton mereka dari awal sampai akhir. Tahu kalau mereka menari, tahu kalau mereka menanyanyi, tapi hanya selewat-selewat saja. Namun, saat aku melihat mereka menari secara langsung, aku harus akui mereka hebat.

“Kakakku ini, bukan penggemar kalian, tapi aku ingin tanya reaksinya setelah melihat kalian,” Tutur adikku. Aku tersenyum. Aku tahu, adikku ingin aku memuji mereka. Jika aku bisa begitu jujur mengungkapkan rasa keberatanku pada kejadian kemarin, adikku pun tahu aku bisa jujur untuk hal yang menurutnya pasti positif ini.

“Apa ini seperti reaction video?” Tanyaku.

“Ya!”

Aku menatap wajah para anggota EXO itu satu persatu. Mereka terlihat menanti-nanti apa yang akan aku ucapkan si kakak sihir ini. Aku pun tersenyum lebar pada mereka sambil memberikan dua jempolku pada mereka.

“YEAH!” seru mereka serentak. Mereka terlihat sangat puas dengan reaksiku.

“Aku bukan penggemar K-POP, entahlah aku penggemar apa, aku tidak tahu. Tapi bisa kubilang tarian kalian rapi sekali. Posisi perpindahan pun sangat bagus. Aku tadi kaget kalian berganti posisi sangat cepat tapi tetap harmonis,” Pujiku. Mereka pun mengucapkan terima kasih berkali-kali. Suasana saat ini benar-benar mencair. Kami seolah melupakan kejadian kemarin yang penuh amarah. Saat aku sedang mencoba mengingat-ingat nama mereka dan mengobrolkan dari kapan mereka berlatih menari, tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan tempat kami mengobrol.

“Katanya mereka datang kemari tanpa sarapan, sekarang sudah akan masuk waktu makan siang, jadi kami berpikir bagaimana kalau kalian makan siang bersama,” Ungkap staff itu.

“Benarkah?” tanya seorang anggota EXO yang bernama Xiumin dengan mata yang terbelalak tidak percaya. “Kalian pasti sangat lapar?” Lanjutnya.

Yeah, we ‘ve just woken up when they arrived.” Jawabku.

“Kalau begitu ayo kita makan bersama!” Ajak Suho.

“Oh! That’s very kind of you!” seruku.

Kami pun berpindah tempat menuju ruangan dengan meja besar –mungkin meja untuk rapat– dengan hidangan yang masih mengepul.

“Kami takut kalian tidak bisa makan daging babi, jadi kami menyediakan makanan lain. Yang ini ayam, ini daging sapi, yang ini seafood.” Jelas seorang staff wanita pada kami sambil menujukkan hidangan itu satu persatu dengan telapak tangannya.

“Oh! Kamsahamnida very much!” Sahutku senang.

Kami menyantap makanan yang terlarang untuk dompet kami. Ini masakan Korea terenak yang aku makan selama di sini. Jika aku fokus pada makananku, adikku lebih fokus mengobrol dengan mereka. Mungkin baginya, lebih lezat bercakap-cakap dengan mereka dibanding hidangan yang kuberi 10 bintang ini.

Walaupun aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, tapi baru kali ini aku melihat adikku setidak pendiam ini. Ya, adikku yang biasanya begitu sunyi, saat ini seolah punya jutaan kalimat untuk diungkapkan pada mereka. Aku melihat para anggota EXO itu terkadang seperti terkesan dengan cerita adikku. Adikku pun sempat memperlihatkan HP-nya pada mereka. Entah mungkin dia sedang memamerkan foto-foto kampusnya. Aku hanya melihat orang yang bernama Chanyeol mengangguk-angguk.

Setelah acara makan siang selesai. Kami pun berfoto dan diantar pulang kembali ke rumah kami.

Hari ini aku melewati hari dengan boyband yang terkenal di dunia. Aneh memang, tidak pernah terbayang akan ada hari seperti ini. Kesanku pada mereka: Hemh! Mereka adalah manusia yang sama seperti manusia pada umumnya. Saat mengobrol tadi aku tidak merasakan mereka adalah idola yang membuatku harus kikuk dengan mereka. Mereka pun menghormatiku sebagai orang yang lebih tua. Good point! Ya, itu yang aku pikir bisa aku tulis untuk publik.

Yup! Acara hari ini tentu saja bukan tanpa maksud. Untuk memperbaiki citra, pihak perusahaan meminta kami menulis sesuatu untuk publik untuk mengklarifikasi kejadian kemarin. Adikku yang sangat cinta mereka pun dengan penuh semangat menulis bahwa kejadian kemarin itu telah kami selesaikan secara kekeluargaan. Semalaman dia menulis mencari kata-kata yang Indah dalam bahasa Korea sedangkan aku tertidur pulas setelah menyatap makanan yang tidak pernah kami makan.

Tulisan dan foto yang di-upload adikku di blog miliknya tersebar kemana-mana. Banyak komentar yang memuji kebesaran hati anggota EXO dan sang manajer yang bersedia meminta maaf kepada kami, sisanya mereka iri karena kami bisa bertemu dengan mereka.

Mengetahui mereka dari tulisan orang dan bertemu secara langsung dengan mereka kurasa ada bedanya. Mungkin, sebanyak apapun tulisan yang orang sediakan untukku tentang EXO, aku tidak akan membacanya karena memang tidak tertarik, tetapi setelah bertemu secara langsung ada kesan yang berbeda yang menumbuhkan minatku untuk tahu. Sebelum adikku menulis essai kemarin, kami sempat mengobrolkan soal mereka. Aku baru tahu kalau dulu jumlahnya itu dua belas. Apa itu EXO-M apa itu EXO-K dan masalah yang merundungi mereka. Entahlah mendengar itu, aku jadi setengah kasihan pada mereka. Mungkin karena itu tanpa aku sadari pagi ini aku jadi mencari-cari tahu tentang mereka. Membaca artikel mereka, menonton acara-acara mereka sampai akhirnya aku tahu wajah dan nama mereka.

“Ah! PARAH!” Pekikku tiba-tiba. “Udah jam 3 lagi? Dari jam 9  kerjaanku cuma melototin mereka doang!” gumamku pada diriku sendiri. Aku melemparkan Hp-ku kekasur. “Idih, kok aku jadi K-poper gini?” Merasa diri tidak sudi menemukan ada sisi diriku yang punya minat pada K-Pop.

Aku tinggalkan HP-ku dan bergegas mencuci piring yang dari pagi –dari saat adikku pergi kuliah– belum aku cuci.

Begini, setelah bertemu mereka, jujur saja aku jadi menikmati acara-acara saat mereka masih 12 orang walau aku tidak bertemu dengan 3 orang lainnya. Dan setelah membaca hal-hal tentang mereka juga, setelah sempat kepo buka-buka instagram mereka, entah mengapa ada yang menggelayut dalam diri ini. Kenapa aku jadi kepikiran, ya? Kok, rasanya aku ikutan sedih gini? Kenapa mereka harus pisah? Ingin deh liat mereka 12 orang lagi? Mereka musuhan nggak, ya? Nggak bisa ya balikan lagi? Kok aku jadi kayak fans mereka gini?

Sambil mencuci piring pertanyaan-pertanyaan itu memborbardirku. Mengapa dalam sekejap ketidakpedulianku ini berubah jadi sangat peduli. Seperti perasaan fans mereka yang begitu mengharap melihat keakraban mereka lagi, entah mengapa aku pun menjadi begitu. Apa sulitnya tetap berteman saja? Tanyaku pada diriku. Aku setengah kecewa pada keputusan yang mereka ambil untuk saling tidak mem-follow lagi teman-teman yang pernah bersama mereka. Semudah itukah mereka melupakan pertemanan? Dari sendu, tiba-tiba perasaanku berubah kesal. Piring pun aku cuci penuh tenaga berkat bantuan amarah yang entah mengapa harus datang hanya karena urusan boyband. Namun, seketika, gerakan tanganku melambat lagi. Aku termenung dengan keran yang terus mengalirkan air. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Cukup lama aku termenung sampai akhirnya aku tersadar kembali. Aku segera menutup keran dan mengelap kedua tanganku yang basah dengan apron yang kupakai. Agak tergesa aku ambil HP yang tergeletak di kasur. Kubuka LINE-ku, dengan ragu aku mencari nama seseorang di deretan nama teman-temanku.

Dipta Kusuma

Teman SMP yang begitu dekat denganku di masa lalu. Keakraban kami terhenti setelah kami sadari kami memiki pemikiran yang berbeda. Tiga tahun sudah aku tidak lagi menyapanya. Dan dia pun tidak lagi menyapaku. Ya, kami sudah saling tidak menyapa. Komunikasi terputus begitu saja.

Aku pandangi nama di layar HP-ku itu. Haruskah aku menyapanya? Tapi untuk apa? Ini aneh! Apa dia masih temanku? Apa dia pun masih menganggapku teman? Aku bingung sendiri. Setengah ragu-ragu, akhirnya aku memutuskan untuk menyapanya.

                                                                                Halo Ta! Apa kabar?

Aku tunggu beberapa saat, tapi tidak ada balasan. Aku menghela napas. Rasanya aku harus bersiap untuk kekecewaan. Aku pun kembali mencuci piringku. Kalau beberapa menit yang lalu aku memikirkan tentang EXO, menit-menit ini kepalaku penuh dengan teman SMP-ku. Aku mengenang saat aku dan dia saling bercanda. Bayangan-bayangan masa lalu datang begitu jelas di lamunan, persis seperti sedang menonton EXO saat masih 12 orang. Saat mereka masih saling bercanda tawa. Bayangan yang indah tapi rasanya pahit untuk diingat-ingat.

Setiap lima menit sekali, tidak tahan rasanya kepala ini untuk tidak menoleh ke arah HP. Berharap LINE-ku berbunyi, tapi sampai aku beres mencuci piring HP-ku sepi-sepi saja. Aku pun meneruskan pekerjaanku. Memasak untuk makan malam. Tiba-tiba perutku yang keroncongan memberitahuku –melalui  alunan suaranya yang tidak merdu– kalau dia sudah benar-benar kelaparan. Aku baru sadar gara-gara EXO aku lupa makan. Kuambil selembar roti tawar dan langsung aku jejalkan ke mulutku. Dengan mulut yang penuh dengan roti, tanganku kembali ke pekerjaan memotong sayuran.

 Ting!

LINE-ku akhirnya berbunyi. Aku segera meninggalkan sayurku dan berlari ke kasur mengambil HP-ku. Tapi ternyata hanya iklan dari LINE. Entah mengapa tubuhku langsung layu. Aku seperti sedang dipermainkan oleh aplikasi hijau ini. Aku rebahkan tubuhku di kasur. Ternyata hal sepele seperti ini bisa juga membuatku baper. Apa sulitnya berteman seperti dulu? Nyatanya memang tidak mudah.

Ting!

LINE-ku berbunyi lagi. Kali ini akhirnya balasan yang aku tunggu. Tanpa sadar senyumku terangkai kembali.

Hai! Mala!
Sehat! Alhamdulillah!
Kamu gimana?

                                                                                Sehat!
Dimana kamu sekarang?

Di Jogja?
Kamu?

                                                                                 Aku masih di Jakarta sih

                                                                                 Cuma sekarang lagi nengok adik di Korea

Wah! Enak dong!

                                                                                 Ya, gitulah!

Satu menit, dua menit, sampai lima menit aku pandangi layar HP-ku, Dipta tidak lagi meneruskan pembicaraan. Aku terdiam bingung. Berharap dia mengatakan sesuatu lagi. Minta oleh-oleh atau apalah. Namun, pembicaraan itu benar-benar sudah terputus. Aku sendiri tidak tahu kalimat apa yang harus aku kirim padanya untuk memperpanjang percakapan kami.

Setidaknya aku sudah mencobanya! Aku sudah mencobanya! Aku mencoba menghibur diriku. Memaafkan diriku. Menguatkan diriku. Tapi, aku tahu ada rasa hampa yang menghinggapiku. Semuanya terasa serba salah.

***

“De, kenapa kamu suka EXO?” Tanyaku tiba-tiba saat kami sedang menikmati makan malam.

“Tumben kak, nanyain EXO?” Adikku balik bertanya. “Idi…h jangan-jangan kakak udah jadi EXO-L, ya?”

“Apaan lagi itu? K,L,M?”

“Fans EXO namanya EXO-L, Kak!”

“Aku EXO-N! Nirmala!” Tukasku. “Udah! Cepet jawab kenapa?”

“Nggak tau, Kak. Mungkin karena tariannya, mungkin karena orangnya. Tiba-tiba aja!”

“Siapa yang paling kamu suka?”

“Udah nggak ada di situ!”

“Luhan?”

“Widih! Kakak serius dari aku pergi cari-cari tahu tentang EXO?” Adikku tertawa geli melihat kakaknya yang sudah kepala tiga begitu serius menyelidiki tentang anak 20 tahunan. Aku diam. Aku juga aneh mengapa aku jadi tertarik pada urusan ini.

“Sebenarnya sih Kak, kalau namanya idol group, rasanya orang-orang jadi menyukai keseluruhan. Suka Luhan yang akrab sama Sehun. Suka Luhan yang deket sama Xiumin, suka ngeliat perhatian Suho sama mereka,”

“Emh…” Selaku sambil mengunyah makanan.

“Sebenernya, agak sepi sih nggak ada Luhan di sana, tapi mungkin mereka merasakan kesepian yang lebih dari aku. Yang pernah jadi temannya Luhan kan mereka.” Jelas adikku.

Aku terdiam mendengarkan adikku. Ternyata adikku lebih dulu memahami hal yang baru aku pahami saat ini. Fans mereka memang dengan mudah meminta mereka kembali seperti dulu, tapi bagi yang menjalani, kurasa itu tidak mudah. Butuh waktu untuk bisa kembali melihat seseorang yang berseteru dengan kita berdiri di depan kita walau dia adalah teman kita, sahabat kita. Butuh hati yang sangat lapang untuk menerima semuanya kembali walau tidak akan pernah kembali seperti sediakala. Sama seperti yang kurasakan hari ini. Kepalaku penuh dengan pertanyaan, dan itu menyakitkan.

“Seandainya Kakak tahu hal ini dari kemarin-kemarin, berani nggak kakak tanya nggak ke mereka apa mereka ingin teman mereka kembali lagi?” tanya Adikku tiba-tiba.

Aku tersenyum. Adikku sedang menguji keberanianku. Aku menggelengkan kepala. Rasanya memarahi Suho lebih mudah dari pada menanyakan rahasia hatinya.

“Apa yang ada di dalam hatinya adalah privasinya. Mungkin pertanyaan itu akan melukainya.” Jawabku. Adikku mengangguk setuju.

Gelap sudah pekat. Sepi sudah mulai menghantui. Suara napas adikku yang tertidur pulas menemani aku yang masih manatap layar HP-ku. Aku masih berharap Dipta mengatakan sesuatu. Aku pun berusaha mengetik kalimat sapaan lainnya.

Ta, masih sama Bowo?

Ta, kamu inget Bu Wati?

Ta, kapan-kapan kita ketemuan, Yuk!

Ta, Aku kangen!

Ta, Maapin aku, ya!

Semua kalimat sederhana itu aku ketik dengan mati-matian memeras otak, tetapi setiap kali aku akan menyentuh send aku mendadak tidak berani dan penuh keraguan. Setelah hampir setengah jam mencari kalimat yang pas unuk menyapanya lagi, yang kulakukan malah menghapusnya dan mematikan HP-ku.

‘Dipta, maafin aku!’ Bisikku. Aku berusaha terpejam, tapi yang ada aku malah menangis. Pedih!

Ingatan terakhir sebelum aku tertidur adalah bayangan saat aku menerima kartu ucapan ulang tahun darinya saat SMA.

Dipta & Nirmala
Best Friend Forever

***

“Kak! Hari ini jangan keasikan nonton EXO! Inget ada acara! Temen-temen udah ngasih uang ke aku. Jangan sampe pulang nanti nggak ada apa-apa!” Tegas adikku sebelum dia pergi ke kampusnya.

“Bawel!”Kataku.

Hari ini, teman-teman adikku dari Indonesia akan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah tempat adikku tinggal. Mereka sudah rindu makanan Indonesia, jadi memintaku memasak. Mereka semua patungan hanya untuk sebuah cita rasa selera nusantara yang sudah mereka tinggalkan lebih dari setahun.

Sebenarnya niatku ke Korea selain menjenguk adikku adalah beristirahat setelah sangat stress dengan pekerjaan. Tapi, apalah daya. Aku malah mengurusi adikku. Masak, membereskan tempat tinggalnya, sampai acara menemaninya ke acara fan meeting. Kurang baik apa coba aku jadi Kakak.

Manhi Satneyo! Mugopji anhayo?” Tanya sang kasir saat aku akan membayar belanjaanku. Aku bengong, tidak paham maksudnya. Adikku mengajarkan beberapa kalimat yang sering diucapkan kasir dan bagaimana cara menjawab kalimatnya. Tapi kalimat ini baru aku dengar.

Aku celingak-celinguk meminta bantuan pada orang-orang di sekitar. Siapa tahu ada yang berbaik hati mau menerjemahkannya ke bahasa Inggris.

You bought so much! Not heavy?” tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Suaranya tidak begitu jelas karena ditutup masker, tapi aku mengenali matanya. Dia menggangguk! Walau bibirnya tertutup masker, tapi dari matanya aku tahu kalau dia tersenyum padaku.

“Suho?” tanyaku tanpa suara hanya gerakan bibir. Dia mengangguk. Aku terdiam sesaat tidak percaya, tetapi dia langsung memberikan tanda dengan matanya agar aku segera fokus kembali ke belanjaanku.

Kwenchanayo!” jawabku pada bibi kasir.

Setelah selesai pembayaran, aku pun mengambil belanjaanku yang ternyata memang cukup berat. Kedua tanganku memegang beban yang membuatku kesulitan berjalan.

Let me help you!” Tiba-tiba Suho mendekatiku sambil berusaha menawarkan jasa membawakan satu kantong belanjaan yang ada di tangan kiriku.

Thank you!”

Where do you live?”

Near here!”

Aduhai! Baiknya pemuda ini mengantarkan aku sampai ke rumah sambil membawa belanjaanku. Tidak disangka amarahku dulu padanya menjadi berkah.

“Kalian hanya berdua kan tinggal di sini, mengapa membeli begitu banyak barang?” Tanya Suho setelah kami sampai di rumah. Wajahnya tidak ditutupi masker lagi sehingga aku bisa mendengarnya dengan jelas.

“Hari ini akan ada acara dengan anak-anak Indonesia lainnya,” Jelasku sambil memperhatikn wajahnya. “Suho, aku baru sadar sesuatu,”

“Apa?”

“Kamu tampan ya!”

“Ah!” sahutnya sambil tersipu malu.

“Aku serius! Aku kan orangnya jujur,”

“Kalau orangnya tidak tampan, Nuna akan jujur juga dan mengatakan dia tidak tampan?”

Nuna?” tanyaku, mengabaikan pertanyaannya.

“Sister!” Jelasnya.

“Aku tahu Nuna itu artinya kakak, tapi baru kali ini aku disebut nuna,”

“Tidak senang?”

“Tidak! Justru aku sangat senang!”

Mendengar kata nuna mengingatkan cerita adikku tentang keakraban yang ada di grup idola seperti mereka. Aku tersenyum padanya.

“Apa kamu sibuk?” Tanyaku padanya. Dia melihat jam tangannya sejenak.

“Jam 12 aku harus pergi,”

“Jadi bisa melungkan waktu 1 jam saja? Ada yang ingin aku sampaikan padamu.”

Wajahnya sedikit menerka-nerka apa yang akan aku sampaikan padanya. Dia pun sepertinya menimbang-nimbang apakah dia bisa meluangkan waktunya atau tidak. Sebenarnya melihat wajah itu, aku seharusnya berkata, ‘ah, mungkin kamu sibuk. Lain kali saja, siapa tahu kita bertemu lagi.’ Tetapi, aku menahan kalimat itu dan berharap dia mau meluangkan waktunya satu jam saja. Harapanku terkabul. Dia mengangguk.

“Duduklah!” Pintaku padanya. Dia pun duduk di lantai kayu di depan meja makan, tempat biasanya aku dan Kirana duduk menyantap makanan.

“Apa kamu suka sesuatu yang manis?” Tanyaku. “Aku membuat makanan Indonesia untuk acara nanti. Mau coba?”

“Boleh!” katanya sedikit sungkan.

Aku pun segera ke dapur mengambil semangkuk bubur kacang hijau yang sebenarnya untuk acara nanti malam.

“Ini namanya bubur kacang ijo. Cobalah, jika tidak cocok dengan lidahmu jangan memaksakan diri,” Ungkapku sambil memberikan mangkuk itu padanya. Dia mencobanya dan sepertinya lidahnya bisa bertoleransi dengan rasa bubur itu. Aku berdiri lagi mengambil selembar roti tawar dan memberikan roti itu padanya.

“Coba makan dengan ini!” Kataku. Dia pun mencobanya.

“Enak!” Sahutnya.

Kami duduk berhadap-hadapan selama beberapa saat tanpa bicara. Dia masih sibuk dengan bubur kacang hijaunya. Aku bingung  apakah harus mulai bicara saat mangkuknya sudah kosong atau tabrak saja sekarang.

“Bicaralah! Aku bisa mendengar sambil makan. Apa yang ingin Nuna sampaikan?” Ujar Suho tiba-tiba seperti bisa membaca raut wajahku yang menerka-nerka.

“Aku kemarin mencari tahu tentang kalian. Tidak aku sangka aku akan melakukan hal itu. Sebelumnya aku sama sekali tidak peduli tentang hidup kalian. Kemarin, aku baru tahu bahwa sebenarnya kalian itu awalnya 12 orang,” Paparku. Aku berhenti sejenak karena melihat Suho yang tiba-tiba memelankan gerak mulutnya yang sedang mengunyah.

“Oh…lalu?” Tanyanya seakan sudah tahu kemana arah pembicaraan ini akan bergulir.

“Jujur saja, aku sendiri merasa aneh pada diriku sendiri karena memiliki minat untuk mengetahui tentang kalian. Seperti yang kamu tahu, yang menjadi penggemar kalian adalah adikku, aku tidak tahu apa-apa soal kalian, tidak merasakan sesuatu yang istimewa apapun tentang kalian, tapi setelah kemarin aku mencari-cari, entah mengapa aku jadi merasakan keinginan yang sama dengan fans kalian yang mempertanyakan mengapa kalian harus berpisah,” aku kembali hening sejenak karena ini lagi-lagi Suho memperlambat gerak mulutnya dengan raut wajah yang seakan-akan kembali ke masa lalu.

Aku kemudian melanjutkan kalimatku tanpa menunggu izin darinya yang sepertinya sedang memasuki nostalgia yang pahit.

“Sama seperti fans kalian, aku pun bertanya, tidak bisakah kalian bersama lagi? Apakah sesulit itu untuk bersama lagi? Mengapa tidak berteman seperti dulu? Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di kepalaku saat itu, sampai akhirnya aku pun menyadari, kisah hidupku sama seperti kalian,” Paparku lagi. Suho tiba-tiba seperti keluar dari nostalgianya dan menjatuhkan pandangannya padaku. Seolah berharap ada pembelaan dariku atas semua yang terjadi di tubuh EXO.

“Karena terus memikirkan kalian, akhirnya aku sadar aku pun memiliki teman yang sudah tiga tahun lebih tidak pernah aku ajak bicara lagi. Padahal sebelumnya kami adalah teman yang tidak terpisahkan. Perbedaan pemahaman membuat kami saling diam.

“Aku dengan mudahnya mengritik kalian yang sepertinya saling diam itu, tapi melupakan diriku sendiri yang ternyata sama saja, tidak memiliki keberanian memperbaiki apa yang telah memburuk. Karena itu, akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menyapa temanku itu kemarin. Ternyata memang butuh keberanian yang sangat besar. Apakah dia masih temanku? Apakah dia musuhku? apakah dia masih menganggapku? Segala pertanyaan berkerjaran sebelum akhirnya aku mengiriminya pesan.”

“Lalu, bagaimana?” Sela Suho tiba-tiba. Dia menjadi punya minat pada ceritaku seakan-akan sedang membayangkan bagaimana kalau dia pun melakukan hal yang sama. Respon apa yang akan dia dapat dari ketiga temannya dulu.

“Komunikasi kami tersendat. Kami berbicara, tapi tidak seperti dulu lagi. Komunikasi yang seadanya. Seperti komunikasi antara kenalan saja.” Jelasku. Suho lalu mengangguk-angguk kepalanya seakan bisa memperkirakan bahwa hal itu akan terjadi pada dirinya jika dia membuat gerakan sapa ex-EXO.

“Melihat yang terjadi padaku, rasanya aku pun sedikit memahami kondisi kalian. Sebenarnya aku bertanya-tanya tidak inginkah kalian bertemu mereka lagi? Tapi setelah aku merasakannya sendiri, ternyata memang berat. Harus mempersiapkan hati yang lapang, karena mungkin segalanya bisa saja tidak sesuai dengan yang kita harapakan.” Tuturku. Suho terlihat tersenyum getir. Kurasa pertanyaan apakah tidak ada keinginan untuk mereka bertemu lagi menusuk ulu hatinya.

Oryopta!” Ucapnya. Aku pikir dia sengaja mengatakannya dalam bahasa Korea agar aku tidak mengerti apa yang dirasakannya. Aku pun tidak berkeinginan untuk memaksanya menjelaskan makna kata itu kepadaku. Dari kepalanya yang tertunduk berat, aku tahu ada perasaan yang terasa pahit olehnya.

“Terima kasih! Kamsahamnida!” Ucapku tiba-tiba saat dia masih tenggelam dalam rumitnya perasaan. Dia langsung menoleh kepadaku begitu mendengarnya.

“Untuk apa?”

“Aku tadi sudah bilang padamu, ada yang ingin aku sampaikan. Aku ingin berterima kasih. Karena kalian akhirnya aku berani untuk melakukan sesuatu yang dari dulu ragu untuk aku lakukan. Akhirnya aku berani untuk menyapa temanku lagi,” Jelasku.
Suho tersenyum. Entah senyum senang, entah senyum bingung.

Never Mind!” Jawabnya. “Aku senang kalian bisa berkomunikasi lagi. Tapi memang kurasa sulit untuk kembali seperti sebelumnya,” Lanjutnya. Kemudian, hening. Suho dan aku seperti sama-sama sedang melakukan kontemplasi yang dalam.

Suho tiba-tiba melihat jam tangannya.

“Kurasa aku harus pergi sekarang.” Katanya.

“Ah, ya!”

“Terima kasih untuk…” Suho menunjuk mangkuk yang sudah kosong.

“Bubur kacang ijo,”

“Bu-bu-reu ka-chang ijo,” Ulangnya.

“Sama-sama! Terima kasih juga telah mendengarku,”

Suho hanya tersenyum.

“Ah! Di luar sepertinya sudah sangat ramai,” Katanya sembari memasang kembali maskernya.

“Kamu butuh topi?” Tanyaku.

“Ada?”

Aku ke meja adikku dan mengambil topi ‘Damn! I love Indonesia!’ milik adikku yang dia beli dengan uang tabungannya sendiri sebelum pergi ke Korea.

“Tidak usah dikembalikan! Itu milik Kirana! Dia pasti senang kalau kau yang pakai!” Kataku.

“Benar? Dia tidak akan marah?”

“Dia mungkin akan berterima kasih,” Kataku sambil tersenyum.

“Sampaikan salamku untuknya!”

“Tentu!”

Seiring keluarnya dia dari tempat adikku percakapan kami pun usai. Suho tidak banyak bicara mengenai perasaannya, walau sebenarnya rasa penasaranku tidak terbendung, tapi aku sudah bertekad untuk tidak memaksanya menjawab rasa penasaranku untuk kepuasanku semata. Perasaannya adalah miliknya. Dan aku harus menghargai itu.

Awal-awal musim dingin ini membuat gelap datang lebih cepat. Hawa dingin membuat penghangat harus selalu menyala. Hidup di sini memang tidak mudah! Kalau berhemat mati-matian bisa jadi mati betulan. Mungkin karena itu orang di sini bekerja gila-gilaan. Di Jakarta saja aku serasa sudah mulai menjadi gila, tidak terbayang kalau aku harus bekerja di sini.

Assalamualaikum!” Teriak adikku yang ditimpali oleh salam yang sama dari beberapa temannya.

Waalaikum salam!” Jawabku.

Teman-temannya menyalamiku satu persatu dan mengungkapkan rasa terima kasih karena mau memasakan masakan Indonesia untuk mereka yang sudah dahaga aroma nusantara. Tanpa banyak ba-bi-bu, mereka langsung menyantap masakan buatanku setelah berdoa. Bubur kacang yang tadi aku suguhkan pada Suho pun laris manis tidak tersisa.

“Kak, pulangnya diundur lebih lama aja, biar kita bisa sering makan masakan kakak. Kangen banget Indonesia, nih!” ungkap salah satu teman adikku yang sepertinya sudah rindu setengah mati untuk pulang ke Tanah Air.

“Boleh, tapi kamu yang bayarin kuliahnya Kirana di sini!” celotehku.

“Ah, syaratnya keberatan.” Jawabnya.

“Makanya, aku harus pulang cepat. Sedih! Nyangkul di sana, di buangnya di sini,” Cetusku.

“Oh, jadi Kakak nggak rela?” Potong adikku. Aku langsung merangkul adikku.

“Kalau nggak rela, nggak akan Kakak biayain dari awal,” Kataku. “Cuma, nanti balikin lagi ke sana!”

“Sip!” Jawab adikku penuh tekad.
Setelah Pesta kangen-kangenan masakan Indonesia selesai teman-teman adikku pun segera pulang sambil menyertakan doanya agar nanti aku pulang ke Indonesia dengan selamat.

Aku bawa adikku ke depan meja belajarnya setelah ruangan yang sebesar ruang kelas itu sepi dari teman-teman Kirana.

“Ada yang aneh nggak ama meja kamu?” Tanyaku.

Adikku menyilangkan kedua tangannya dan mencari-cari apa yang janggal dengan meja belajarnya. Agak sulit dia menemukan apa yang berubah dari mejanya karena semua posisinya masih sama seperti sebelum dia berangkat kuliah.

“Ah! Topi aku!” Serunya setelah sadar apa yang hilang. “Di kemanain?” Tanya dengan tatapan kesal penuh prasangka.

“Aku kasihin ke Suho.”
Adikku langsung terpaku ketika nama Suho aku sebut. Matanya terbelalak. Kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga.

“Seriusan Suho ke sini?” Tanyanya masih tidak percaya.

“Salam buat kamu katanya!” Kataku santai. Mendengar itu adikku langsung melompat kegirangan dan memelukku.

“Kok bisa Suho ke sini? Kok bisa? Kok bisa? Ngapain dia ke sini? Sama siapa ke sininya?” pertanyaannya terus merepet tidak bersela. Dia sedang dibanjiri hormon kebahagiaan sampai seperti tenggelam di dalamnya.

Cukup lama juga menurunkan antusiasme adikku ini. Setelah cukup tenang dan tidak berjingkrak-jingkrak lagi akhirnya aku pun menceritakan dengan santai apa yang terjadi menjelang siang tadi. Kirana mendengarku khidmat. Dia tidak memotong ceritaku sama sekali. Dia baru berkomentar setelah aku selesai bercerita.

“Kalau denger cerita Kakak, kayaknya Suho Oppa sedih, deh?”
Sebenarnya aku ingin meledeknya gara-gara baru kali ini aku mendengar dia mengatakan Oppa. Namun, berhubung suasananya hening dan begitu sentimentil aku mengabaikan keinginanku untuk meledeknya.

“Mungkin nggak De kalau mereka dipertemukan lagi?”

“Kayaknya susah deh, Kak!”

Jawaban hampa harapan adikku itu mengubur keinginan banyak penggemar EXO dan juga mungkin keinginan aku dan adikku.

“Udah ah! Jangan baper lagi!” Ujar adikku sambil beranjak ke tempat tidur. Seperti biasa, sebelum membaca doa tidur, dia lebih dulu membaca kemungkinan instagram-nya mungkin di-follow oleh Chanyeol.

“Ya elah De! Masih ngarep Ig kamu di-follow Chanyeol. Orang kamunya aja nggak follow dia.” Komentarku.

“Iya ya! Ngarep diistimewakan, padahal aku mah apa atuh, fan juga kere, bisa nonton sekali konser mereka aja udah lumayan.”

“Pilih konser atau kuliah?”

“Kuliah!” Tegasnya. “Ya Tuhan aku dibikin baper terus sama Chanyeol! Semoga besok lupa kalau aku pernah ngasih tau ID aku ke dia,” sambungnya yang tidak nyambung dengan percakapan kami sebelumnya. Kemudian dengan menutup mata dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya adikku mulai berdoa dengan suara lirih yang sama sekali tidak terdengar olehku.

“Aamiin!” Ucapnya. Kemudian, berbaringlah adikku itu di kasur.

Aku memandangi wajahnya sesaat.

“De!” Panggilku.

“Hemh?” Jawabnya tanpa membuka mata.

“Kamu nggak sekalian ngedoain EXO, kan?” Tanyaku.

Adikku hanya menyunggingkan bibirnya tanpa membuka matanya. Meninggalkan sebuah teka-teki yang sulit aku tebak. Namun, seperti aku memperlakukan Suho, aku pun tidak ingin memaksanya mengeluarkan semua hal yang tersembunyi dalam hatinya. Mungkin ya mungkin juga tidak. Itu rahasia adikku.

***

Dingin semakin menusuk di negara semenanjung ini. Namun, kehadiran hujan kapas putih yang kutunggu belum juga datang. Hari kepulangan ke Indonesia semakin dekat. Entah mengapa saat akan pulang aku malah sudah merasa nyaman di negara sibuk ini. Mungkin karena aku tidak sibuk di sini. Mungkin karena aku sudah mulai merasa sedang berlibur di sini. Atau mungkin karena banyak kejadian luar biasa yang terjadi di sini.

Adikku sedang merasa senang karena dia sudah bisa sedikit rehat dari rutinitasnya dan menikmati liburan musim dingin. Saking menikmatinya, hampir tiap hari dia bangun siang. Bangun-bangun dia tinggal makan sarapan yang aku sediakan. Aku sendiri terkadang pergi-pergi sendiri berpiknik hemat dekat kota ini. Saat berjalan-jalan sendiri terkadang tersenyum sendiri kalau melihat poster EXO. Aku tidak percaya pernah mengobrol santai dengan Suho di tempat adikku. Selain adikku yang mendengarkan musik mereka, aku rasa aku sudah terlepas dari EXO-EXO-an sekarang ini.

“De! Om Bima besok mau ke Korea katanya. Ada kerjaan. Mau dibawaain sesuatu nggak katanya?” tanyaku adikku yang masih menggulung di kasur.

“Bumbu instan!” jawabnya tanpa mengubah posisi tidurnya.

“Bangung dong De!” pintaku. “Kopernya Om kosong tuh, masa cuma minta bumbu doang? Minta yang lain supaya kamu bisa hemat di sini!”

Malas-malasan adikku akhirnya berusaha mengangkat tubuhnya dan membuka matanya yang masih mengantuk. Dia menggaruk lehernya dengan wajahnya yang masih setengah sadar.

“Indomie?” Tanyanya.

“Nggak boleh banyak!” Tegasku.

“Oh, iya kak, aku ingin nasi-nasi yang dikotakin yang udah ada rasanya. Kayak nasi kuning, nasi rames gitu,”

“Oh iya boleh tuh!”

“Sama kentang kering itu loh kak, Mustopa!” Tambahnya.

Aku pun langsung mengetik pesan-pesanan adikku pada paman kami yang sedang siap-siap akan berkunjung ke tempat kami sebelum pergi ke tempat tujuannya.

Ketika aku sedang serius mengetik pesan, aku tiba-tiba dikagetkan dengan pekikan adikku yang melengking. Aku langsung menoleh padanya yang seperti kaget dengan apa yang dia lihat di HP-nya. Berita buruk apa gerangan.

“Kenapa, De?” Tanyaku dengan raut wajah penuh tanya.

Dia memperlihatkan padaku layar HP-nya tanpa mengatakan apa-apa.

“Apa? Nggak keliatan dari sini?” tanyaku khawatir.

“Chanyeol DM aku…” Katanya. Suaranya seperti tertekan hingga hampir tidak keluar saking kagetnya. Wajah bengong, tapi tiba-tiba…

“YEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!” Teriaknya girang tidak kepalang.

Tidak cukup dengan itu dia kemudian merepet berbicara bahasa Korea yang tidak aku pahami. Sudah sekian lama semenjak percakapanku dengan Suho, aku tidak mendengar apa-apa lagi tentang mereka. Aku pun jadi ikut senang seperti adikku walau levelnya dalam taraf yang biasa saja.

“Apa katanya? Apa katanya?” Tanyaku tidak sabar. Aku buru-buru menyelesaikan mengetik pesanku pada paman kami dan mengirimnya. Kemudian, aku langsung mendekati adikku yang masih tidak percaya dikirimi pesan secara langsung oleh Chanyeol. Sayang saat aku melihat layar HP adikku aku tidak bisa menikmati pesan Chanyeol karena semuanya tampak kotak, bulat, garis saja.

“Ayo cepet terjemahin, De!” Pintaku.

Halo, ini Suho.
Aku menggunakan Instagram Chanyeol untuk menyampaikan sesuatu pada Kakakmu.
Tolong terjemahkan ini untuk Kakakmu!

Aku sangat berterima kasih atas obrolan kita waktu itu.
Setelah pulang aku banyak memikirkan kata-kata Nuna.
Terima kasih telah mencoba memahami posisi kami.

Walau sedikit ragu, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan hal yang kita bicarakan kepada anggota yang lain. Sebagai Leader, aku sebenarnya merasa sulit. Bagaimana jika anggota yang saat ini ada tidak siap bertemu teman dan kakak-kakak mereka. Lalu bagaimana kalau Tiga orang yang sudah meninggalkan EXO pun merasa berat untuk bertemu kami. Lalu bagaimana aku harus menjelaskan keinginan ini pada perusahaan kami. Sungguh, bukan hal yang mudah bagiku. Namun, rasanya ceritamu terus menghantuiku. Tidak bisakah hanya bertemu saja? Walau mungkin segalanya tidak akan seperti dulu lagi. Setelah aku berunding cukup panjang dengan anggotaku yang lain, mereka akhirnya memutuskan untuk mencoba memberanikan diri bertemu kembali dengan anggota EXO sebelumnya. Setelah semua orang setuju, aku pun akhirnya mencoba mengirim pesan kepada ketiga teman kami itu. Walaupun bagi mereka pun tidak mudah, tetapi akhirnya mereka berkata mereka akan mencoba untuk bertemu kami. Aku pun sudah membicarakan ini dengan perusahaan. Mereka mengizinkan, dengan syarat tidak diadakan di kantor kami. Sebenarnya izin ini pun tidak mudah didapatkan.

Rencananya kami akan bertemu lusa ini. Sebagai ucapan terima kasih karena telah mengilhami aku untuk melakukan ini semua, kami mengundang kalian untuk datang di acara tersebut. Kami sudah menyewa sebuah rumah untuk bertemu. Jika kalian bersedia datang, aku akan kirimkan alamatnya.

Acara ini tertutup untuk Media. Jadi kami harap kalian pun tidak memberi tahu kepada siapapun.

Terima kasih!
Suho

Setelah adikku selesai menerjemahkan pesan dari Suho, aku dan adikku hanya bisa saling beradu pandang. Aku tidak percaya dengan apa yang baru aku dengar dari adikku. Adikku sendirinya seakan tidak percaya dengan apa yang baru dia baca. Tanpa bahasa verbal kami saling bicara. Adikku memelukku erat. Aku pun memeluknya erat. Siapa itu Suho? Siapa itu Chanyeol? Siapa itu Kai? Siapa itu Xiumin? Siapa itu Baekhyun? Siapa itu Chen? Siapa itu D.O? Siapa itu Lay? Siapa itu Sehun? Siapa itu Luhan? Siapa itu Kris? Siapa itu Tao? Keluarga dari kakek bukan, keluarga dari bibi bukan, sepupu bukan, keponakan bukan, teman kampus bukan, tapi mereka membuat kami meneteskan air mata. Adikku malah terisak tangis membacanya. Aku terharu dengan keberanian Suho.

“Makasih Kak!” Ucapnya.

I didn’t do anything!” Jawabku. Aku melepaskan pelukannya dan mengusap pipinya yang basah dengan air mata. “Cepat balas! Bilang padanya kita bersedia datang ke acara mereka.”
Dengan pipi yang masih basah dengan air mata dan tangan yang masih gemetaran, adikku pun mencoba membalas pesan dari Suho.

Halo! Suho Oppa!
Aku sudah memberitahukan pesanmu pada Kakakku.
Kami berdua tidak percaya dengan pesan yang kami dapat.
Kami bahagia sampai meneteskan air mata.
Terima kasih telah mengundang kami pada acara kalian.
Kami akan datang.
Kami tidak akan membocorkan pertemuan ini pada siapapun.
Terima kasih atas kabar yang membahagiakan ini.
Selamat pada kalian semuanya.

    Nirmala Onni & Kirana

***

Sebenanrya dinginnya udara di Korea sudah menusuk tulang, tapi ada antusias hebat yang terasa menghangatkan kami berdua saat dalam perjalanan menuju sebuah rumah yang Suho tunjukan pada kami. Kepala kami masing-masing penuh dengan imajinasi yang terkadang berubah setiap semenit sekali. Membayangkan satu persatu wajah mereka bertemu dengan sahabat mereka.

“Kenapa senyum-senyum sendiri, Kak?” tanya adikku yang menangkap wajahku yang memang tersenyum-senyum sendiri.

“Nggak apa-apa! Aneh aja. Kakak itu udah 33 tahun, penggemar mereka bukan, agak merasa kekanak-kanakan tapi kok rasanya ini sah-sah aja!”

“Ngerasa jadi ABG lagi?”

“Haha! Mungkin.”

“Mungkin karena kita berhubungan dengan mereka secara langsung. Bukan sekedar idola dan fans, tapi hubungan sesama manusia.” Jelas adikku.

Ya, mungkin begitu. Hubunganku dan mereka itu adalah hubungan sesama manusia. Sesederhana itu. Karena itu, rasanya perasaan senang ini sah-sah saja adanya.

Setelah turun naik kereta, akhirnya kami berjalan menuju sebuah pertemuan besar yang mungkin membahagiakan banyak penggemar EXO di dunia ini.

Langkah kaki kami semakin cepat begitu rumah yang dituju terlihat di pandangan mata kami. Daerahnya begitu sepi. Aku rasa ini adalah kawasan rumah orang kaya yang pemiliknya jarang ada di rumah. Kalau pun ada, sepertinya mereka tidak akan peduli dengan apa yang terjadi di rumah sekeliling mereka.

Semakin dekat kami pada rumah yang bergerbang putih itu, semakin cepat jantung kami berdetak. Aku baru merasakan lagi antusiasme yang aneh ini.

Beberapa detik setelah Kirana menekan bel dan memperlihatkan wajahnya di monitor yang ada di samping gerbang, pintu gerbang itu pun terbuka. Di dalamnya ada beberapa mobil yang terparkir. Apakah semuanya sudah berkumpul? Tanyaku dalam hati.

Baekhyun membukakan pintu untuk kami. Adikku terlihat sangat bahagia bisa bertemu dengan mereka lagi.

“Masuklah!”katanya dalam bahasa Korea.

Annyeong haseyo!” Ucap adikku yang langsung dibalas oleh Baekhyun dengan ucapan yang sama. Aku mengikuti adikku mengucapkan salam yang sama pada Baekhyun yang segera dibalasnya.

Kami bertiga masuk ke ruangan yang tidak terlalu luas, tapi cukup untuk menampung 12 orang anggota EXO dan dua orang tamu undangan istimewa: KAMI.

Saat melihat kami, semua anggota menganggukan kepalanya dan mengucapkan salam kepada kami. Aku dan adikku segera membalas salam mereka.

Yogi anjeuseyo!” pinta Sehun pada kami untuk duduk di sebelahnya.

Sofa berwarna hitam nan empuk yang membentuk posisi huruf U ini akan menjadi saksi reuni anggota EXO. Semua anggota EXO yang sembilan orang sudah hadir. Mereka terlihat tegang sekaligus penuh harap. Kami berdua menjadi salah tingkah karena tidak ada satu pun dari mereka yang mengajak kami bicara. Aku dan adikku saling berpandangan, saling bicara dengan bahasa kalbu. Bertanya-tanya apakah kami berada di situasi yang tepat saat ini?

“Ah! Maaf! Kalian jadi ikut tegang, ya?” Suho tiba-tiba memecah suasana tegang di ruangan itu. Aku dan adikku hanya mengangguk dibarengi senyum tidak jelas.

“Ah, Kirana ssi! Terima kasih topinya. Boleh untukku?” Tanya Suho lagi sambil menunjuk topi yang dulunya milik Kirana itu.

“Ah, ya silahkan!” Jawab Adikku singkat.

Obrolan-obrolan kecil tentang topi itu sedikit menghangatkan suasana yang kaku sebelumnya. Namun, semuanya kembali terdiam ketika Lay menerima telepon dan menyapa dalam bahasa Mandarin. Semua mata anggota EXO langsung tertuju pada Lay. Saat mendengarkan orang yang ada di ujung telepon, bibir Lay bergerak tanpa bunyi memberitahu teman-temannya kalau yang sedang berbicara dengannya itu Luhan.

“Sebentar lagi mereka sampai.” Ungkap Lay setelah dia menutup teleponnya. Wajah-wajah tegang kembali bermunculan. Ada yang menatap atap, menjatuhkan pandangan ke lantai, melihat lurus ke depan dengan tatapan nanar, semuanya seperti membayangkan bagaimana mereka akan bersikap di depan teman lamanya.

Tiba-tiba semua terperanjak saat bel berbunyi. Kami berdua jadi ikut-ikutan kaget karena gerakan tubuh mereka yang tiba-tiba.

“Luhan Hyung!” Sahut Baekhyun setelah dia mengecek tamu lewat monitor. Semua saling berpandangan bertanya-tanya siapa yang akan menyambut mereka. Lay pun akhirnya maju tanpa diminta. Lay-lah orang pertama yang melihat wajah ketiga temannya yang sudah lama tidak mereka temui itu. Begitu mereka bertiga masuk ke ruangan tempat kami berkumpul, sangat terasa gerak tubuh yang kikuk. Luhan tersenyum ragu, tapi kemudian dia benar-benar tersenyum. Tao dan Kris masih kulihat memperlihatkan senyum yang tidak sehalus senyum Luhan.

Wasso!” Suho langsung mendekati Luhan dan memberikan salam khas laki-laki. Suho melanjutkan sapaannya pada Tao dan Kris. Anak buah Suho pun kemudian meniru sikap yang dilakukan sang ketua. Mereka berdiri dan memberi salam pada teman-teman lamanya itu. Persis seperti saat Lebaran di Indonesia. Hanya saja mereka tidak sungkem.

Setelah selesai acara salam ala pria itu selesai, Suho memperkenalkan kami pada ketiga mantan anggota EXO itu.

“Ini Nirmala Nuna dan Kirana. Mereka yang membuat hari ini terjadi!” Ungkap Suho.

Aniyo!” Tukas adikku. “Ini semua terjadi karena keberanian Suho Oppa. Kami tidak melakukan apapun!” Jelas adikku. Suho sedikit menyunggingkan senyum dan setengah menggeleng tanda dia tidak setuju dengan pendapat adikku.

“Ok, duduklah kalian di sini!” pinta Suho pada ketiga anggota lamanya itu. Di sofa tengah yang diapit oleh Chanyeol dan D.O. Suho sendiri duduk di posisi paling ujung di samping Baekhyun. Aku dan adikku di ujung lainnya di samping Sehun.

Hening sesaat. Semuanya tidak tahu harus memulai dengan kalimat apa. Sampai akhirnya aku perhatikan Luhan yang duduk paling tengah tersenyum geli.

Wae irokhe osaekhe? Pyonhage hae!” Ujar Luhan sambil setengah tertawa.

Aku langsung mencolek bahu adikku memintanya menerjemahkan untukku. Adikku pun segera membisikan arti kalimat yang Luhan ucapkan tadi.

“Kenapa pada kikuk gini, santei aja!”

Aku mengangguk-angguk.

Setelah kalimat pembuka dari Luhan, semua orang mulai terlihat tersenyum bahkan beberapa orang setengah tertawa. Terdengar beberapa orang menimpali ini dan itu. Adikku tidak menerjemahkannya karena terlalu banyak orang yang berbicara. Namun, tawa itu tidak lama. Semuanya kembali hening. Terasa sekali mereka masih kaku dengan kondisi ini.

“Emh…” Suho kemudian mulai angkat bicara. Aku langsung mencolek adikku memberi aba-aba agar dia segera bertugas menjadi interpreter. Berkat bantuannya, aku pun bisa mengerti apa yang Suho ucapkan.

“Pertama-tama aku sangat berterima kasih kepada kalian semua. Juga pada Kirana ssi dan Nirmala Nuna. Terima kasih telah dengan besar hati datang ke acara ini. Ini pertama kalinya kita bersama lagi seperti dulu. Aku tahu kalian mungkin kikuk dengan kondisi ini, aku juga sama. Aneh, bahagia, terharu, tidak bisa kubohongi perasaan takut pun ada.

“Walaupun Kirana berkata mereka tidak punya andil dalam acara ini, tapi karena percakapanku dengan Nirmala Nuna-lah akhirnya aku memberanikan diri mengumpulkan kalian lagi bersama. Nuna, sebenarnya setelah aku mengobrol denganmu waktu itu, kepalaku terasa berat dengan pertanyaan yang sangat sederhana. Tidak inginkah kalian bertemu lagi? Jika jawabannya hanya di bibir mungkin mudah, tapi begitu sampai ke hati, segalanya terasa rumit karena untuk merealisasikannya bukanlah hal yang enteng.

“Sebenarnya, aku selalu merasakan ini. Mungkin beberapa dari kalian pun sangat memahaminya. Posisi Leader membuat perpisahan kita begitu melukaiku. EXO! 3 huruf itu bukanlah sekedar nama di kamus Bahasa Inggris. Bagi kita, tentu EXO adalah kumpulan dari 12 orang, yaitu kita. Dan aku Suho, Penjaga EXO ini merasa tidak berhasil menjaga kalian untuk tetap bersama,”

Suara Suho terasa begitu berat saat mengucapkan kalimat itu. Beberapa orang tertunduk dan kurasa sudah ada yang menitikan air mata. Suasana begitu hening dan sentimentil. Adikku pun seolah menahan rasa sedihnya. Tapi dia tetap berusaha keras menerjemahkan ucapan Suho selanjutnya.

“Saat Nirmala Nuna menceritakan padaku, kalau dia akhirnya memutuskan untuk kembali menyapa teman lamanya karena dia terus memikirkan keadaan kita, akhirnya aku pun bertanya pada diriku sendiri, bisa kah kita bertemu dengan teman-teman kita lagi? dengan kakak-kakak kita lagi? Beberapa hari aku sulit tidur mempertanyakan itu. Aku berusaha membuang pertanyaan itu dari kepalaku, tapi entah mengapa pertanyaan itu muncul dan muncul lagi. Semakin aku hindari pertanyaan itu semakin menghantuiku. Karena itu, maaf tanpa memikirkan perasaan kalian, akhirnya aku mengajukan keinginanku ini pada kalian,” Paparnya panjang lebar yang diakhir dengan mata yang bercaka-kaca menahan air mata yang sudah terlihat bertumpuk. Baekhyun yang duduk di sampingnya langsung merangkulnya, mencoba memberi kekuatan walau mata dia sendiri sudah basah dengan air mata. Sehun yang duduk di samping adikku pun terdengar sudah terisak.

“Namun…. namun… semuanya terbayar hari ini. Aku… aku… sungguh bahagia, terharu melihat kita bisa duduk bersama lagi bersama ini. Walau….walau… aku tahu semuanya mungkin merasa berat…”

Susah payah Suho mengungkapkan perasaannya ini. Air matanya pun bercucuran sudah tidak dapat terbendung lagi. Cucuran air mata itu pun mengundang air mata anggota lainnya yang ikut berderai.

Suasana penuh kontemplasi pun kembali menyelimuti ruangan itu. Kirana adikku pun terbawa suasana air matanya meleleh. Mungkin karena aku tidak terlalu mengenal mereka, aku merasa baik emosi dan suasana hatiku tidak terlalu terjatuh dalam suasana yang sendu ini. Aku mengeluarkan tisu dari dalam tasku dan memberikannya pada adikku dan beberapa anggota EXO yang kulihat sudah menangis. Dengan suara lirih aku mereka mengucapkan terima kasih padaku.

“Emh…” Aku tiba-tiba bersuara. Tatapan mereka semua langsung beralih padaku. “De! Terjemahin!” pintaku pada adikku. Dia pun segera menyeka air matanya dan kembali menjadi penerjemah profesional.

“Jujur saja, aku merasa tersentuh karena Suho memikirkan kata-kataku. Aku juga merasa bahagia karena akhirnya kalian bisa duduk bersama lagi di sini. Namun, selebihnya aku merasa bersalah, khususnya pada Suho. Karena kata-kataku memposisikannya dalam kondisi hati yang sulit. Karena itu, saat berbicara padamu saat itu, aku tidak langsung bertanya padamu apakah kamu ingin bertemu lagi dengan Luhan, Kris dan Tao? Karena seperti yang kualami sendiri, itu tidak mudah. Namun, ternyata kamu memikirkannya sampai seperti ini, aku benar-benar merasa tidak enak.

“Kemudian, aku baru tahu kalau arti namamu itu penjaga. Aku tahu pasti pahit rasanya ketika kamu merasa tidak berhasil dengan tugasmu sebagai penjaga, tapi kurasa kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sampai seperti itu. Melepaskan seseorang bukan berarti sebuah kegagalan menurutku. Ada banyak hal yang tidak mampu kita lakukan. Dan itu wajar saja. Jangan terlalu menyalahkan diri atas situasi yang kamu tidak punya kuasa atasnya. Pilihan temanmu untuk berpisah adalah sesuatu yang tidak punya kuasa atasnya.” Jelasku yang sampai pada mereka berkat terjemahan adikku. Kulihat Luhan, Tao, dan Kris menganggukan kepalanya. Beberapa orang pun sepertinya mengamini pernyataanku.

“Oh, ya! Aku minta maaf memotong pembicaraan kalian. Kami berdua senang berada di sini. Dan kami pikir kami akan ada sampai acara ini berakhir, tapi karena ini acara besar kalian, anggap saja kami sebagai penonton di TV. Mengobrolah dengan santai. Aku dan adikku hanya akan menyimak.” Jelasku. “Or maybe you want to say something?” tanyaku pada adikku.

Aniyo! Obsoyo! Silahkan kalian mengobrol saja seolah-olah tidak ada kami,” Kata adikku.

Yorobun deui jal boyeoyo! Ottokhe mot boneun cheok haeyo, uriga…” Ungkap Xiumin.

Keunyang pyonhage yaegi haseyo! Urireul shinkyong sseujima seyo!” Jawab adikku.

Payah! Aku tidak mengerti apa-apa. Hanya bisa cengo saat beberapa anggota EXO menimpali pembicaraan adikku dan Xiumin. Entah apa yang mereka bicarakan tiba-tiba tawa mulai hadir di sana setelah sebelumnya banjir lelehan air mata. Hanya mereka dan adikku yang nyambung. Aku sendiri lost in translation.
Tidak berapa lama setelah percakapan Xiumin dan adikku itu, mereka akhirnya melakukan yang kami minta. Untuk mengobrol santai tanpa harus mempedulikan keberadaan kami. Itulah arti kalimat yang diucapkan adikku saat Xiumin bertanya ‘Kalian sangat jelas terlihat. Bagaimana kami bisa berpura-pura tidak bisa melihat kalian?’

Percakapan antara kedua belas orang itu mulai lepas. Terkadang ada jeda, terkadang ada hening, terkadang tertawa, terkadang serius, terkadang penuh keharuan, semua perasaan sepertinya campur aduk di ruangan itu. Hanya satu yang aku sayangkan. Aku tidak mengerti apa-apa! Adikku pun kesulitan menerjemahkannya padaku karena yang satu berbicara lalu ditimpali yang lain, lalu yang lain ikut menimbrung, lalu… tiba-tiba saja mereka tertawa.

Aku melihat wajah adikku yang terkadang berubah-rubah mengikuti suasana pembicaraan mereka. Kulihat dia menyunggingkan senyum saat mendengar idolanya berbicara, kuartikan mereka sedang bicara sesuatu yang hangat, akrab, manis dan sejenisnya. Ketika wajah adikku mendadak serius dengan pandangan nanar, mungkin para anggota EXO itu sedang membicarakan hal yang menyentuh hati mereka begitu dalam atau sebagainya.

Aku membiarkan adikku menikmati sesuatu yang tidak bisa aku nikmati. Biarkan saja! Lagipula aku bukanlah penggemar mereka. Tidak terlalu merasa rugi melewatkan terjemahan percakapan mereka. Aku malah senang karena adikku begitu senang.

Ketika pembicaraan mereka masih berlangsung, tiba-tiba Suho bertanya sesuatu pada adikku yang diiringi oleh tatapan para anggota lainnya.

“Jongmallo puthakhaeyo!” Ucap Suho serius dengan mata terpejam dan merapatkan kedua tangannya seolah meminta sesuatu pada adikku. Setelah lama  EXO-TV yang kutonton ini tidak ada subtitle-nya, akhirnya bagian ini aku mendapatkan lagi terjemahannya.

“Kata Suho, dia minta bantuan kita untuk nelepon restoran untuk pesen makanan. Nanti kalau ada tukang yang nganterinnya, dia minta kita keluar buat ngambil. Katanya maaf, bukannya bermaksud jadiin kita pembantu mereka, tapi kalau ketahuan orang bisa jadi masalah,” Jelas adikku.

No problemo!” Kataku sambil mengacungkan jempol. Serentak anggota EXO mengucapkan terima kasih pada kami.

Tontonan tanpa subtitle berlanjut kembali setelah adikku memesankan makanan pada sebuah restoran. Tidak lama berselang, suara bel pun berbunyi adikku dan aku keluar mengambil pesanan makanan mereka. Uangnya? Tentu dari Suho.

NUUUUUUUUUUUUN!” Adikku berteriak kencang sambil lari ke dalam ruangan dengan membawa kresek makanan.

Mwo? Mwo? Mwo?” Secara bergantian mereka bertanya ada apa gerangan yang membuat adikku berteriak sekencang itu.

YEAH! IT’S SNOW OUTSIDE!” Aku ikut-ikutan berteriak seperti adikku saking senangnya. Salju yang kutunggu akhirnya turun juga.

Setelah Aku dan adikku menyimpan kresek makanan di sofa, kami semua mendekati jendela dan melihat salju pertama yang turun di musim dingin ini. Kulihat beberapa orang memejamkan matanya dan menyatukan kedua tangannya diiringi dengan gumaman doa.

You don’t pray and wishing for something?” Tanya Kai padaku yang berdiri di sampingnya.

We pray everyday!” Ungkapku.

Keuraeyo! Nuni naerido an naerido, uriga kido haeyo!” Timpal adikku yang artinya ‘Ya! Kita berdoa baik saat salju turun ataupun tidak,”

Kai pun tersenyum pada kami. Dia kemudian memejamkan matanya. Mulutnya tidak berkomat-kamit. Aku pikir hatinya sedang berdoa.

Doa-doa telah digumamkan baik melalu bibir yang berbisik lirih atau hati yang dalam kesunyian. Mungkin adikku juga menggumamkan sesuatu dalam hatinya. Lagi, itu rahasianya. Aku sendiri hanya bisa terkagum saja pada ciptaan Tuhan itu.

Setelah acara pendek yang begitu pribadi antara kami dan Tuhan itu usai, akhirnya acara makan-makan pun dimulai.

Mereka menyantap makan malam mereka sambil tetap mengobrol, terkadang sambil tertawa. Aneh, aku merasa senang melihat acara langsung ini. Ya! Langsung tanpa layar TV sama sekali. Aku tidak sedang melihat 12 orang anggota EXO, tapi aku sedang melihat 12 orang teman. Mereka manusia pada umumnya. Mereka manusia seperti kami juga.

Guys! You will not tell this to your fans?” Tanyaku tiba-tiba. Mereka langsung berhenti mengunyah makanan kemudian saling berpandangan satu sama lain. Sedikit berdiskusi dan beradu argumentasi dalam bahasa Korea, setelah itu adikku pun menerjemahkan keputusan mereka.

“Mungkin fans kita akan bahagia melihat kita begini. Bisa kalian foto kami?” tanya Chen.

Sesi foto saat makan pun berlangsung. Chanyeol menyerahkan HP-nya agar kami bisa memoto mereka. Klik! Klik! Klik! Alhasil foto-foto mereka sedang memamerkan makanan, saling menyuapi pun tersimpan di HP Chanyeol dan HP adikku. Tentu saja aku dan adikku berfoto dengan mereka. Kulihat adikku girang setengah mati karena bisa berfoto dengan Luhan.

Sesi foto berlanjut setelah makan. Kali ini foto mereka bersama-sama. Mereka saling merangkul satu sama lain dan diiringi tawa dan senyum. Beberapa orang pun berfoto selfi dengan Kris, Luhan dan Tao.

Kulihat mereka semua tersenyum! Kulihat mereka semua berbicara! Kulihat mereka semua saling berangkulan! Kulihat semua teman itu! Kulihat semua itu indah!

“Ah, Ya! Kami punya hadiah untuk kalian!” Seru adikku tiba-tiba. Ya! Hadiah yang membuat tas kami menggembung.

“Apa?” Tanya D.O.

Kami berdua pun mengeluarkan enam pasang sandal jepit dari tas kami masing-masing.

Saendal yo?” Tanya Sehun.

 “Ya, apa kamu ingat sesuatu dengan sandal ini?” Tanya adikku.

“Tentu!” jawabnya sambil tertawa geli.

“Ya, saat kamu memakai sandal ini, Indonesia heboh dengan sandal ini. Sandal ini pun jadi dinamai Sandal Sehun. Harganya di toko online sempat naik sepuluh kali lipat,” Jelas adikku.

“Sungguh?” Tanya Sehun tidak percaya.

“Ya! Tidak masuk akal, kan?”

Sehun dan beberapa orang lainnya tertawa.

“Kemarin, Paman kami datang dari Indonesia, jadi aku meminta untuk dibawakan sandal ini untuk kalian.” Papar adikku. “Di Indonesia biasanya sandal seperti ini diberi nama, karena sering tertukar, bisakah kalian juga menuliskan nama kalian di sandal ini?” Pinta adikku.

“Tentu!” Sambar Sehun senang. “Akan aku tulis SANDAL SEHUN!” tambahnya.

Benar saja, begitu diberi spidol, Sehun langsung menuliskan kata SANDAL SEHUN di sepasang sandal swallow warna hijaunya. Anggota yang lain pun mengikuti langkah Sehun. Akhirnya Sandal-sandal yang berwarna-warni itu pun dicap dengan nama mereka sendiri-sendiri. SANDAL SUHO; SANDAL XUIMIN; SANDAL LUHAN; SANDAL KRIS; SANDAL CHANYEOL; SANDAL D.O; SANDAL LAY; SANDAL SEHUN; SANDAL TAO; SANDAL CHEN; SANDAL KAI; SANDAL BAEKHYUN.

Mereka kemudian memamerkan sandal-sandal mereka dengan berselfi ria. Adikku meminta mereka meletakan sandal mereka membentuk lingkaran dan memotonya.

“Kalau di jual bisa untung besar!” Cetus adikku. Mereka tertawa.

“Aku tidak ingin menjualnya!” Sela Sehun. “Ini sandal pertemanan!” Tegasnya. Beberapa orang mengangguk, beberapa orang tersenyum, beberapa orang tanpa respon.

“Ah, ya!” Aku tiba-tiba angkat suara. “Besok malam aku pulang ke Indonesia!” Ungkapku.

“Oh ya?” Tanya Suho. “Kalau tahu begitu aku akan membelikan sesuatu untuk Nuna.”

“Tidak!” Tegasku sambil mempertegasnya dengan gerakan tangan menolak. “Bagasiku sudah penuh,” Sambungku. “Bisa hadir di acara ini dan melihat kalian bersama seperti ini pun sudah jadi hadiah kepulanganku ke Indonesia besok. Terima kasih untuk acara yang indah ini.”

“Justru aku yang harus berterima kasih kepada kalian.” Kata Suho ramah. Aku tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalaku. Anggota EXO yang lain pun kemudian mengucapkan rasa terima kasihnya padaku. Akhirnya kami pun saling mengucapkan terima kasih.

Kemudian…
Sudah!
Ya, acara itu pun usai. Mereka mengakhirinya dengan rangkulan, pelukan, dan pamit ringan. Luhan melambai-lambaikan tangannya dengan manis pada adikku sambil tersenyum. Aku yakin nanti adikku akan mengalami baperisasi yang lama gara-gara ini. Satu persatu anggota EXO itu pun meninggalkan ruangan yang memang disewa untuk acara hari ini saja.

Salju sudah menipis saat kami keluar dari rumah itu.

“Kalian, biar aku antar.” Ungkap Suho.

“Tidak!” tolak Adikku. Aku terheran-heran. Mau diantar Suho, kok nolak! “Aku ingin menikmati perjalanan pulangku pelan-pelan sambil bersyukur atas hari ini,”

“Ah! Begitu! Baiklah kalau begitu.” Suho tidak memaksa.

Sebelum kami semuanya pulang. Suho memohon sesuatu pada kami. Aku dan adikku menyanggupinya.

Semua keluar dari gerbang rumah itu dengan mobil-mobil mereka. Sebenarnya Suho sangat tidak tega membiarkan kami pulang dengan kereta, tapi dia pun tidak bisa apa-apa karena keinginan adikku. Aku pun sependeritaan dengan Suho. Kalau diantarkan lebih cepat, tapi aku lebih memilih mengabulkan keinginan adikku.

Saat rombongan mobil EXO sudah menghilang dari pandangan. Adikku mengeluarkan HP-nya lalu mengambil foto rumah itu dengan HP-nya. Kulihat pipinya basah lagi dengan air mata. Hari ini sepertinya sangat istimewa baginya. Menyaksikan hal yang mungkin menjadi mimpinya. Aku membiarkan dia menikmati perasaan itu. Seperti yang dia katakan pada Suho, dia ingin menikmati perjalanan pulangnya. Lambat sekali dia berjalan. Lebih lambat dari seekor siput rasanya. Berbeda sekali saat kami pergi tadi. Lagi, aku tidak ingin mengomentarinya apalagi mendesaknya utuk berjalan lebih cepat. Aku ikuti saja langkah kakinya itu walau dingin begitu menusuk.

“Kak, Apa kakak berharap mereka kembali lagi?” Tanya adikku tiba-tiba.

“Apa Kamu berharap menikahkan lagi pasangan yang sudah bercerai hanya untuk kesenanganmu? Padahal kebersamaan mereka tidak membuat mereka bahagia?” Aku balik bertanya.

Adikku diam terpaku. Harapan dan kenyataan yang tidak sesuai ini mungkin menyesakkan dadanya. Rasanya ingin egois, tapi tidak bisa. Rasanya ingin bisa bijaksana, tapi itu juga tidak bisa.

Di dalam kereta yang lumayan penuh dengan orang, isakan tangisnya bukan berhenti, tapi malah menjadi-jadi. Aku menyenderkan kepalanya ke pundakku dan merangkulnya. Dia begitu sentimentil. Sebenarnya aku juga sama sentimentilnya menyaksikan kejadian tadi, tapi mungkin aku bukan penggemar mereka, jadi segalanya masih bisa ditahan.

Wae geuraeyo?” Tanya Seorang nenek. Aku tahu nenek itu bertanya mengapa adikku menangis terus. Entah bagaimana aku menjawab nenek itu. Bisa memangnya kalau pakai bahasa Inggris.

Dongsaeng…. namja chingu….emh…” Aku berusaha menjelaskan dengan kata per kata. Adik… pacarnya… dan karena aku bingung tidak tahu kata putus, akhirya aku memakai bahasa tubuh dengan merapatkan kedua tanganku kemudian menjauhkannya.

Ah… broke up?” Ungkap nenek itu tidak aku sangka-sangka.

Yes! She has just broken up with her boyfriend!” Ulangku. Mendengar itu adikku menyikut perutku. Aku hanya tersenyum geli.

Take this! I hope you can meet better person!” Kata sang nenek sambil menyerahkan sebungkus roti. Aku suruh adikku untuk sesaat mengangkat kepalanya dan menerima roti itu.

Kamsahamnida!” Ucap adikku. Sang nenek mengelus kepala adikku penuh kasih kemudian duduk tenang lagi di samping kami.

Adikku sepertinya bukanlah tipe penggemar yang gila. Dia masih bisa menguasai dirinya saat bertemu EXO. Dia tidak pernah berteriak-teriak saat bertemu EXO. Dia justru berteriak kalau tidak ada mereka. Aku jadi merasa menangisnya dia sekarang bukanlah karena dia bertemu idolanya, kurasa lebih dalam dari itu. Ini tentang sebuah cerita persahabatan yang dia saksikan. Ya, kebahagian karena mampu melihat hubungan pertemanan yang kembali terjalin. Aku pikir aku bisa mengerti perasaan ini. Karena itu, tidak sedikit pun aku ingin mengusik air matanya. Ya! Aku tahu! Aku tahu! Aku tahu itu, karena aku pun masih merasakan ngilu saat kulihat LINE milik Dipta tidak juga ada lanjutannya. Aku terus menatap percakapan yang menggantung itu sambil mendengarkan isakan tangis adikku di dalam kereta yang sedang membawa kami pulang.
Sesaat setelah aku menatap layar HP-yang sepi itu, aku kemudian memasang earphone satu di telingaku dan satu di telinga adikku yang sudah mulai tenang dan mungkin mulai mengantuk.

“De! Dengerin deh! Lagu bagus!”

Kudengar rintik senyum adikku begitu mendengar intro lagu yang kuputar dari HP-ku.

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Memaklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Nananananana

***

Adikku sudah menggulung tubuhnya berbalut selimut tebal. Iri rasanya, tapi aku berniat menyelesaikan permohonan dari Suho sebelum pulang ke Indonesia. Walau Suho mengatakan aku boleh melakukannya setelah di Indonesia, tapi aku pikir aku tidak bisa menundanya. Aku harus mengerjakan ini sebelum kesanku pada reuni ini memudar karena pekerjaan dan rutinitas yang terkadang membuatku tidak hidup seperti manusia.

Permintaan Suho pada kami adalah menuliskan apa yang kami lihat hari ini untuk fans mereka. Karena selama acara reuni kemarin tidak ada video yang merekam –dan memang sengaja tidak direkam–, Suho meminta rekaman dari kepalaku ini ditumpahkan menjadi tulisan untuk dibaca para fans mereka. Alhasil beginilah jadinya. Terjagalah aku malam ini. Janji Tuhan! Aku tidak akan sering-sering bergadang lagi seperti dulu.

Sebelum tidur sebenarnya aku dan adikku berdiskusi dulu tentang apa yang harus kami tulis. Setelah mendengar adikku tentang bagaimana EXO-L itu, aku malah jadi bingung sendiri. Mungkin tidak semua penggemarnya akan menyukai semua ini. Lantas? Kenyataannya kita tidak mungkin membahagiakan semua orang. Aku sebelumnya sudah mengatakan pada Suho, aku tidak bisa menulis sesuatu hanya untuk menyenangkan fans mereka saja. Apa yang ada di depan mataku, apa yang aku rasa, itu yang akan aku tulis. Aku bukan seorang penghibur yang melakukan apa saja untuk menghibur penonton.

“Asal jangan marah-marah seperti dulu!” Itu pesannya padaku.

Aku berusaha menulis sebisa mungkin apa yang aku rasakan tentang acara reuni itu dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Kemudian, setelah selesai, aku memberikannya pada adikku untuk dia terjemahkan ke dalam bahasa Korea. Beres dengan bahasa Korea kami pun mengirimkannya pada Suho untuk menerima persetujuaannya. Setelah dia dan kawannya memberi ACC, tibalah tulisan ini muncul di blog adikku beserta beberapa foto. Tentu foto kami dengan mereka tidak kami upload. Kami kan bukan artis.

Salju pertama di musim dingin ini turun di saat sesuatu yang besar mendatangi kami tanpa kami duga. Hal yang mungkin diinginkan oleh begitu banyak penggemar EXO di dunia ini (?) Aku bukan seorang penggemar EXO. Mereka baru benar-benar aku ketahui keberadaannya di dunia ini setelah insiden yang juga tidak aku duga akan terjadi di dalam hidupku. Insiden itu mungkin sebuah jalan untuk terjadinya hari ini. Hari bertemunya anggota EXO dengan ketiga temannya yang dulu –bisakah kukatakan sekarang pun masih teman? – Kris, Luhan, dan Tao. Suho-lah yang menginisiasi terjadinya pertemuan ini.

Aku dan Suho pernah bertemu tanpa sengaja. Saat itu dia mendengarkan ceritaku tentang aku yang akhirnya memberanikan diri untuk menyapa teman lamaku yang sudah lama sekali komunikasinya terputus denganku karena perbedaan pendapat. Ternyata, menyapa teman lama yang sepertinya mudah itu, tidak semudah kelihatannya. Butuh persiapan hati yang begitu besar. Berdasarkan pengalaman perasaanku sendiri, rasanya aku bisa memahami, mungkin bagi anggota EXO pun bertemu kembali dengan Kris, Luhan, dan Tao bukanlah hal yang mudah. Karena itu, walau pada awalnya aku seakan memiliki perasaan yang sama dengan para penggemar EXO yang ingin melihat mereka kembali berdua belas, aku tidak sampai hati untuk meminta ini pada Suho. Bertanya mengenai kemungkinan itu padanya pun tak sampai hati rasanya. Namun, tidak aku sangka percakapan kami membuat Suho terus memikirkannya. Aku rasa dia bukan hanya mengerahkan tenaganya, tapi dia pun mengerahkan perasaannya untuk mengadakan pertemuan ini. Apa yang dia kerjakan tidak semudah yang aku kerjakan. Aku hanya tinggal membuka layar HP-ku, membuka LINE dan menyapa temanku. Sedangkan Suho, dia harus meyakinkan delapan orang temannya terlebih dahulu. Delapan kepala yang berbeda harus dia bujuk untuk ini. Kemudian, dia pun harus menghubungi tiga orang lainnya, Kris, Luhan dan Tao. Tiga kepala lagi yang harus dia yakinkan. Tidak selesai dengan itu, dia pun harus menjelaskan niatnya ini pada perusahaan tempat mereka bekerja. Pokoknya terlalu rumit hanya untuk sebuah pertemuan beberapa jam. Namun, syukurlah usahanya membuahkan hasil. Lalu, sebagai rasa terima kasih Suho pun mengundang kami berdua di acara yang tertutup itu. Kami pun datang ke acara tersebut sebagai tamu undangan, kami berdua hanya menyaksikan mereka, tidak lebih. Lebihnya, mungkin kami diajak makan malam yang dibayar oleh Suho.

Kalian, para penggemar mungkin menanti-nantikan apa yang terjadi selama pertemuan itu. Sama, saat di sana pun kami dan para anggota EXO menanti-nanti dan menerka-nerka apa yang akan terjadi. Aku sulit menceritakan detailnya. Aku sendiri tidak mengerti bahasa Korea. Segala yang kutahu hanya lewat perantara adikku yang menerjemahkanya kepadaku. Dan sering kali karena adikku terlalu menikmati menonton mereka, dia pun lupa menerjemahkannya padaku.

Jadi, aku hanya bisa menceritakan sekilas saja, apa yang mataku lihat, apa yang otakku rekam, dan apa yang hatiku rasakan.

Saat kami datang, kesembilan anggota EXO sudah ada di tempat. Suasana terasa cukup tegang saat itu. Mereka semua seperti sedang mempersiapkan hati mereka masing-masing. Tidak lama kemudian, tiga anggota yang dulu pernah bersama dengan mereka datang. Aku lihat mereka agak canggung saat menyapa Kris, Luhan dan Tao. Namun, tidak begitu lama Luhan memecah keheningan dengan memulai berbicara dan akhirnya suasana pun mulai mencair. Aku lihat mereka mengobrol, tertawa, saling bercerita seperti wajarnya para lelaki yang sedang berkumpul. Terkadang ada keheningan, saat itu kurasa mereka sedang membicarakan hal yang sentimentil. Air mata pun sering kali terlihat dari mata mereka. Apa mereka saling berpelukan dan saling merangkul? Kalau itu yang kalian ingin tahu, ya! Mereka melakukanya. Apa seperti dulu? Itu yang tidak aku tahu.

Menurut adikku yang memang penggemar mereka. Situasi yang dia amati tidak seperti dulu. Adikku merasakan mereka tidak selepas seperti dulu. Pembicaraan-pembicaraan yang berkaitan dengan perpisahan sengaja mereka hindari. Untukku yang bukan seorang penggemar mereka, melihat itu semua rasanya sudah cukup indah.

Kami dan mereka makan malam bersama. Saat makan malam mereka mengobrol dan bercanda tawa. Lagi, menurut adikku, situasi makan bersama pun tidak seperti biasanya. Memang terlihat mereka terkesan canggung. Adikku bilang, saling menyuapi diantara mereka itu adalah hal yang wajar. Tidak ada pemandangan itu kemarin di antara yang tiga dan yang sembilan. Hanya di antara yang sembilan saja aku melihat pemandangan itu.

Setelah acara makan bersama itu, beberapa dari mereka sempat berdoa setelah melihat salju yang turun pertama di musim dingin ini. Sesi terakhir dari acara itu adalah foto bersama. Silahkan perhatikan sendiri foto mereka. Apakah mereka terlihat senang atau tidak, silahkan amati sendiri.

Sebelum benar-benar berakhir, kami sempat memberikan mereka kenang-kenangan. Mungkin bagi fans di Indonesia, kalian akan mengerti mengapa kami menghadiahi mereka sandal jepit. Sehun sangat menyenanginya.

Setelah aku ceritakan apa yang terjadi pada acara itu, sekarang biarkanlah aku mengungkapkan apa yang hatiku rasakan tentang pertemuan itu.

Sebelum aku akhirnya memutuskan untuk menyapa temanku lagi, rasanya perasaanku dan harapanku pada EXO hampir sama dengan kalian para penggemar EXO yang menginginkan mereka bersama lagi sebagai EXO. Namun, setelah kulihat mereka secara langsung beberapa jam lalu dan menyaksikan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Aku merasa mereka mampu berbesar hati untuk bertemu kembali pun sudah lebih dari cukup.

Walaupun kami berada di sana, tidak sedikit pun kami memiliki keberanian untuk bertanya bagaimana perasaan masing-masing personil setelah bertemu satu sama lain apalagi memohon kepada mereka untuk kembali pada formasi EXO dengan 12 personil. Terlalu egois rasanya keinginan seperti itu di saat bertemu pun begitu berat untuk mereka. Seperti yang adikku rasakan. Mereka tidak seperti dulu. Dan itu wajar menurutku.

Mereka hidup dalam begitu banyak prasangka, harapan, dan tuntutan orang lain. Apakah mereka masih saling menyayangi? Apakah mereka saling membenci? Tidak bisakah mereka bersatu lagi? Fans akan sangat bahagia kalau kalian kembali bersama lagi, dan seterusnya……
Kita mungkin akan bahagia jika melihat mereka bersama-sama lagi di layar Laptop kita, tapi pertanyaan yang justru aku ajukan setelah melihat reuni hari ini adalah akankah mereka bahagia jika bersama lagi? Atau justru perpisahan ini yang lebih baik. Apakah kita mengharapkan mereka terus menghibur kita walau mereka terluka? Walau mereka sendiri perlu dihibur?

Sulit rasanya hidup tanpa prasangka. Pertanyaan apakah mereka masih saling mengasihi atau justru sekarang saling membenci terkadang terus berputar di kepala. Namun, hati bukanlah dinding facebook. Hati adalah hak istimewa manusia untuk menyimpan perasaan mereka. Suka atau benci, itu adalah hak mereka. Walau harus aku akui kebencian memang sering kali malah balik menyakiti diri sendiri. Hati membutuhkan waktu. Hati membutuhkan proses. Mungkin saja rasa hormat mereka bertumpuk dengan rasa kecewa. Rasa benci mereka bertumpuk dengan sayang. Karena itu, mereka butuh waktu untuk mengurainya. Ada 12 kepala, ada 12 pemikiran, ada 12 perasaan, ada 12 perbedaan. Aku rasa tidak mungkin jika tidak pernah ada perseteruan. Tidak mungkin tidak pernah ada kekecewaan. Bertenggang rasa mungkin jawabannya. Namun, tenggang rasa pun bukan hal yang mudah tanpa kesadaran yang dalam. Sebagai orang yang lahir lebih dulu di banding mereka, aku telah merasakan bagaimana waktu mengubahku dengan bijaksana. Biarkanlah hati mereka mendapat pengalaman dari cinta dan benci, dari bangga dan kecewa, dari tawa dan luka. Itulah pelajaran yang berharga dari kehidupan. Sampai akhirnya mereka mampu benar-benar mengidentifikasi perasaan terjujur mereka sendiri.

Hari ini aku dan adikku telah melihat 12 orang teman yang berkumpul. Ya, teman! Bukan 12 orang anggota EXO. Itu sudah cukup bagi kami. Tidak ada penghakiman apapun atas hati mereka yang tidak pernah kami tahu sesungguhnya. Atas luka dan kecewa yang tidak juga pernah kami rasakan. Sudah! Tidak ada tuntutan apapun. Kalaupun ada, maka tuntuntan itu adalah agar mereka hidup bahagia. Itu saja.

Selamat menikmati sisa liburan musim dingin! ^^

exo-makan

Suho memang kaya! Dia yang beliin makan untuk kita semua.

exo kumpul

Rindu 12 orang ini tertawa seperti ini? Silahkan dinikmati.

exo-sandal

Hadiah sandal jepit dari kami. Sehun bilang ini sandal persahabatan. Tidak akan dijual ^^

                                                                                       ***

Bandara Soekarno-Hatta – Indonesia.

Ting!

Dipta_K

Wah! Oleh-olehnya dong!
Titip satu yang kayak Song Jong Ki  ^^

~The End~

Setelah 4 hari menggeber diri membuat cerita ini akhirnya beres juga. Cukup melelahkan karena aku pikir akan selesai dalam 2 hari. Mana bulan puasa lagi hehehe. Sudah cukup lama tidak menulis cerita lagi membuat agak kaku memang, tapi senang akhirnya bisa menulis lagi walau mungkin jauh dari sempurna.

Aku bukan penggemar EXO, hanya menyukai mereka secukupnya. Jadi, mungkin banyak penggemar EXO yang lebih tau tentang mereka  dan menemukan kekurangtepatan  penokohan dalam cerita ini mohon dimaklumi ya….

Ide cerita ini berasal dari perasaan sendiri…hehehe curhat. Saat memikirkan tentang mereka, tiba-tiba kepikiran tentang diri sendiri. Pengerjaannya sering yakin dan tidak yakin karena banyak faktor yang harus dipikirkan. Mungkin ada EXO-L yang berkenan dan tidak berkenan dengan cerita ini, yang ini juga mohon dimaklumi. Karena sebenarnya intinya lebih pada pribadi.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: