Home > Artikel > Ridwan Kamil bukan Tuhan

Ridwan Kamil bukan Tuhan

Siapa yang meluas dan menyempitkan rezeki manusia? Ridwan Kamil? Pasti tidak setuju kan. Ridwan Kamil bukan Rabb (pengurus / pemelihara)-nya manusia. Dia manusia biasa yang diberikan amanah untuk mengurus kota bernama Bandung.
Setelah beberapa bulan menjabat, rasanya isu yang mulai terasa gerah muncul juga dengan kehadiran peraturan yang melarang belanja di PKL di zona merah. Orang-orang mulai terusik urusan perutnya. Sebenarnya, kalau untuk saya apa susahnya taat dengan peraturan ini. Kalau tidak boleh beli di situ ya sudah ikuti. Selesai. Saya tidak akan mati gara-gara tidak bisa beli barang di PKL zona merah. Namun, banyak orang menaruh simpati pada nasib para PKL. Bagimana mereka hidup, bagaimana mereka makan, bagaimana anak-anak mereka sekolah dan seterusnya…. Kenyataannya saya rasa mereka masih hidup, masih bisa makan, dan mungkin juga anak-anaknya masih sekolah.
Jika mau hitung-hitungan seperti itu, maka pada siapa saya harus protes? Walikota? Presiden? Pak M. Nuh? Terus terang saja, cerita ini mungkin tidak baik untuk diceritakan oleh seorang guru. Mengapa? Karena cukuplah murid tahu kalau kita ada disaat mereka sedang belajar dengan kita. Apakah dapur guru itu mengepul atau tidak itu bukan urusan murid. Jadi sebenarnya saya pun agak tidak enak menceritakan ini, tapi siapa tahu jadi bahan pemikiran.
Saat awal-awal menjadi guru honorer (sampai sekarang masih honorer) saya ingat saya selalu mengeluhkan perbedaan gaji PNS dan honorer yang jomplang minta ampun, padahal sama-sama guru. Sampai saya menyadari bahwa bayaran saya berdiri selama satu jam pelajaran itu tidak jauh berbeda dengan tukang becak yang mengayuh becaknya, bahkan lebih sedikit lagi mungkin, karena umumnya tukang becak tidak mengayuh becaknya selama 45 menit untuk mengantarkan pelanggannya, bukan? Miris rasanya menyadari harga saya yang lulusan S1 ternyata sama dengan tukang becak. Mungkin dibandingkan dengan PKL, gaji saya masih lebih kecil. Lalu bagaimana saya hidup? Ternyata saya masih hidup, masih bisa makan, masih bisa mengajar, masih bisa ini dan itu. Mengapa? Karena pengurusan saya itu ada pada Tuhan, bukan seorang Ridwan Kamil, SBY, atau Pak Mentri. Dengan cara-cara tidak diduga Tuhan tetap memberikan saya rezeki.
Jika Anda percaya hanyalah Tuhan yang memiliki wewenang untuk meluaskan dan menyempitkan rezeki, itu artinya Ridwan kamil adalah seseorang yang Tuhan hadirkan guna terjadinya proses penyempitan rezeki itu. Namun, jika Ridwan Kamil adalah orang yang berbuat kerusakan dalam sistem keadilan Tuhan, maka saya pikir kita telah diberi contoh dari kasus walikota Bandung sebelumnya. Mungkin itulah juga yang akan dihadapi Ridwan Kamil kalau dia tidak amanah. Karena itu, sebelum menunjuk orang bersalah maka kita perlu cek diri kita… sebenarnya saya salah tidak selama ini sih berjualan di tempat yang memang bukan menjadi hak saya untuk berjualan? Tanyakan pada diri Anda sendiri… kalau Anda ngeyel dan berpikir… ah pira oge jualan dan teu maehan batur… maka coba pikirkanlah baik-baik… Seandainya ada kebakaran atau ada kecelakaan lalu mobil pemadam susah lewat karena kesemrautan yang Anda buat dan karena itu nyawa orang tidak terselamatkan… bukankah secara tidak langung Anda ada dalam tanggung jawab itu. Sebenarnya saya tidak perlu mengatakan seandainya, karena saya sendiri pernah melihat bagaimana mobil pemadam terjebak macet dan kendaraan-kendaraan tidak segera menepi, bahkan mereka terus melaju seolah tidak peduli. Apakah Anda bagian dari mereka yang tidak peduli?
Ingat Tuhan itu mencatat sampai yang terkecil, saat Anda jualan dan buang sampah sembarangan saja, itu ada itung-tungannya. Jadi jangan terus berteriak keadilan tanpa bertanya pada diri sendiri apakah saya sudah adil? Apakah saya sudah memperhatikan hak orang lain?
Rezeki Tuhan itu luas, selama Anda mau berpikir dan berusaha dan tentu berbuat kebaikan. Semoga Anda semua disayang Tuhan.

Categories: Artikel Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: