Home > CERITA > Filosofi Pacar (Cerpen Fiksi Dicky – SMASH)

Filosofi Pacar (Cerpen Fiksi Dicky – SMASH)

Entah apa gerangan yang membuatku hari itu harus ke apotek ini. Hanya menderita batuk ringan saja, tetapi aku merasa perlu membeli obat, perlu berjalan mendatangi apotek ini, perlu bertemu dengan perempuan ini. Perempuan yang menjelaskan plus minus dari obat yang akan aku beli.

“Yang paling ampuh saja!” sahutku saat itu, bingung tak tahu obat mana yang bisa menghilangkan seketika batuk yang terasa gatal di tenggorokan itu.

Semenjak saat itu, setiap aku aku batuk atau melihat orang batuk, aku selalu teringat akan dirinya. Seorang anak perempuan berseragam sekolah dengan lokasi sebuah SMK Farmasi di Bandung. Wajahnya yang manis, rambutnya yang sedikit bergelombang. Namun, yang paling aku ingat adalah cara bicaranya yang tertata rapi saat menerangkan obat batuk.

Semenjak itu pula, entah mengapa kakiku rasanya gatal ingin ke apotek. Bukan untuk membeli obat, tapi untuk mendengar dia menjelaskan obat-obat yang ada di apotek.

Itulah awal cerita aku dan dia bisa saling mengenal.

Ok! Sekarang biar aku perkenalkan diriku dan dirinya. Aku Dicky M Prasetya atau yang lebih dikenal dengan Dicky SMASH. Rasanya tak perlu panjang lebar aku jelaskan tentang diriku di sini, tinggal ketik saja namaku di google, maka kalian akan tahu fakta tentang diriku dari A sampai Z yang dirangkum dengan apik oleh para penggemarku. Namun, jika kalian ketik nama Saliana Salsabila, aku rasa tak akan banyak hasil pencarian yang benar-benar tepat dengan nama ini. Karena itu, biarlah aku yang akan membuat ulasan tentangnya, tentang perempuan dengan gaya bicara yang memikat.

Seperti biasanya dia akan keluar dari apotek tempat dia PKL (Praktik Kerja Lapangan) pukul enam sore. Kepalanya akan mencari ke sekeliling untuk mencari keberadaanku. Setelah menemukanku dengan perlengkapan penyamaran, ia akan tersenyum. Sungguh senyumnya pun sama memikatnya dengan cara bicaranya.

Sore ini gerimis nan lugu menemani perjalanan kami ke sebuah tempat makan yang tidak terlalu terkenal, tempat makan yang memiliki ruangan rahasia untuk kami berdua. Sebuah ruangan yang penuh dengan poster kesehatan yang membuatku merasa ada di klinik dibandingkan di sebuah tempat makan. Rumah makan ini adalah rumah makan milik senior Sali yang berkerja di apotek yang sama. Teh Sisil namanya. Suatu kali pernah ada wartawan yang membaui keberadaanku di tempat makan ini, maka denga inisiatifnya Teh Sisil menyembunyikan kami berdua di ruangan ini. Jadilah ini tempat rahasia kalau kami makan.

“Mau makan apa?” tanyaku.

“Seperti biasa,” jawabnya.

“Masa terus-terusan makan nasi goreng?”

“Aku cuma bisa makan itu,” jawabnya singkat sambil tersenyum ringan. “Aku masih anak sekolah,” lanjutnya.

Aku mengerti kalau nasi goreng adalah menu yang paling masuk akal dengan dompetnya, tetapi masa sih dia tidak bosan?

“Sekaliiiiiii aja aku ingin traktir kamu,” ungkapku serius. “Boleh, ya?” pintaku dengan wajah memelas.

“Iya, Sal, sekali aja ditraktir Dicky nggak akan apa-apa kali. Lagian nasi gorengnya juga abis,” sela Teh Sisil yang tiba-tiba datang.

Ah ! akhirnya berkat dorongan Teh Sisil hari ini aku bisa melihat dia melahap spagetti.  Dia begitu menghayati spagetti yang dia santap sembari tersenyum yang tak bisa aku tangkap maknanya.

“Minggu depan aku mau manggung di Jogja, andai kamu bisa ikut,” kataku.

“Bukannya kamu bilang setiap melihat apotek inget sama aku, setiap lihat orang batuk juga inget aku, jadi aku akan selalu ikut dalam ingatanmu selama kamu masih bisa melihat apotek di Jogja,”  jawabnya.

“Ya, kamu selalu hadir di mana pun saat kuarahkan mataku ke apotek,” tambahku sambil sedikit tertawa. “Pokoknya waktu liburan sekolah, kamu sama aku harus pergi ke suatu tempat!” tegasku.

“Boleh! Tapi pastikan di tempat itu ada apoteknya, ya!” Candanya. Canda sederhana yang selalu berhasil membuatku tertawa kecil tapi penuh dengan kebahagian.

Malam menyeret warna kelam di langit. Sinar bintang redup karena mendung. Jalanan yang sepi, jauh dari keramaian membuatku betah bersamanya di luar rumah makan milik Teh Sisil itu.

“Sudah malam, biar aku anter kamu,” pintaku. Namun, ia menggelengkan kepalanya.

“Mungkin ada yang kenal sama motor kamu, nanti kalau sampai ketahuan, aku jadi terkenal di TV,” sahutnya lagi-lagi dengan wajah penuh canda.  Namun, begitu aku sesali. “Aku yang duluan, atau kamu yang duluan?” tanyanya.

“Kamu aja! Biar aku bisa terus lihat kamu,”

“Ya udah!”

Dia pun mulai berjalan menyusuri jalanan sepi dan motorku mengikuti dari belakang dengan perlahan. Kadang-kadang ia membalikan wajahnya lalu tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya. Cara pacaran yang aneh!

Pacaran?

Tidak!

Kami belum pada tahap itu rasanya. Segalanya berjalan begitu saja tanpa peresmian apapun. Aku tak pernah memintanya menjadi pacarku begitu pula sebaliknya. Jadi hubungan apa ini? Sejenis pacaran  tanpa pernyataan aku kira.

Bunyi klakson yang bersautan dan sinar lampu yang mulai meramaikan malam menandakan kami sudah mendekati jalan raya. Jalan yang akan memisahkan kami berdua untuk sementara. Maka, dia akan membalikan badan untuk terakhir kalinya sebelum kami berpisah, tetapi… itu tidak terjadi.

Derap langkah yang tadi begitu santai dan tenang tiba-tiba menjadi begitu cepat. Alih-alih menengok ke belakang ia malah belari dengan cepat  dan berbelok ke arah kanan.

“SALI!” teriakku, tetapi ia tak berbalik dan malah terus berlari.

Seorang laki-laki mengejarnya. Ada apa ini? Siapa laki-laki itu?

Aku panik, tetapi aku tak bisa mengendarai motorku karena itu melawan arus dan aku tidak mungkin melewati trotoar yang penuh dengan pedagang. Aku tinggalkan motorku tanpa memikiran keselamatan motor yang kuparkir begitu saja. Dengan helm yang masih melindungi kepalaku, aku pun mengejar mereka berdua yang terus berlari menyusuri gang-gang kecil hingga akhirnya terhenti di gang buntu.

Saat aku sampai aku lihat Sali sudah bersimpuh sambil menangis memohon untuk tidak pukuli. Jujur aku sangat takut melihat kejadian ini, tetapi tidak mungkin juga aku lari. Harus bagaimana ini? Harus bagaimana ini? Di tengah kepanikan itu aku pun melepaskan helmku dan melemparkannya dengan keras ke arah kepala si pria dengan harapan dia menjadi pusing dan aku bisa membawa kabur Saliana, tetapi ternyata tindakan yang tanpa perhitungan itu benar-benar tindakan konyol yang malah mengancam keselamatanku sendiri. Laki-laki itu malah berbalik padaku dan sebuah tinju pun melayang ke wajahku. Seperti dalam novel-novel yang menuliskan kalimat darah ‘segar mengalir dari ujung bibir’, kali ini aku benar-benar merasakannya. Perih! Sungguh perih! Adegan jagoan dan heroik itu ternyata tidak enak! Sakit!

Di belakang sang centeng, Saliana menjerit-jerit memohon agar aku tak dipukulnya untuk kedua kali. Ya! Mohonlah! Mohonlah agar aku tak lagi ditonjoknya karena aku sangat takut. Saliana pun menengahi kami berdua memohon-mohon dengan air mata yang membanjiri pipinya, memohon-mohon agar aku dilepaskannya.

“Aku akan bayar! Aku akan bayar!” ratapnya dengan nada penuh putus asa.

“Kapan?” bentak si centeng itu dengan galak. “Sudah 10 bulan!”

“Seminggu lagi! Seminggu lagi aku bayar! Tapi tolong lepasin dia!” rengeknya.

“Berapa?” tanyaku dengan suara yang masih diliputi ketakutan. “Berapa yang harus dia bayar?” aku ulang pertanyaanku.

Dua juta lima ratus ribu rupiah. Harga yang tak lebih banyak dari harga HP-ku itulah yang harus aku bayar agar aku terlepas dari ancaman tonjokannya yang kedua sekaligus membebaskan Saliana dari kejaran rentenir itu.

Di samping pintu ATM tempat aku menarik uang untuk dibayarkan pada si rentenir, Saliana tertunduk dan terus berisak tangis.

“Mau tidak mengobati lukaku? Perih banget Sal!” kataku. Mendengarkan itu, ia pun mengangkat kepalanya. Pipinya basah dengan air mata, matanya pun sembab dan merah.

Entah planet entah bintang yang bersinar terang  di Timur itu, di antara bintang-bintang yang redup malam ini. Dalam balutan angin malam yang sangat dingin ini pun akhirnya satu keinginanku terkabul: mengantar Saliana ke rumahnya.

“Aduh! Ujang punten! Hapunten pisan jadi Ujang nu katempuhanna,” Ungkap ibunya Saliana begitu mendengar apa yang terjadi. Tak henti-hentinya ia menumpahkan penyesalan dan minta maaf atas apa yang menimpa diriku.

Teu sawios-wios Bu, Nggak apa-apa Bu,” ucapku walau jujur saja perih di bibir ini tidak bisa sembuh dengan jampi teu sawios-wios.

“Duduk di sana!” suruh Saliana sambil menjunjukan sebuah sofa dengan beberapa tambalan dan isi sofa yang sudah jengah terkurung hingga mereka berusaha melarikan diri dari beberapa celahnya.

“Aku ambil dulu obatnya,” lanjutnya. Aku pun menurut.

Saliana pergi mengambil obat dan sang ibu tengah menjerang air untuk membuat teh yang akan ia sajikan untukku. Aku pun sendirian di sebuah ruangan yang tak lebih luas dari kamarku dengan warna cat yang sudah pudar dan mengelupas. Ada meja besar dengan setumpuk pakaian yang belum disetrika, satu meja kecil dan pendek dengan setumpuk buku-buku farmasi, televisi dan sofa uzur ini. Dindingnya dihiasi dengan beberapa gambar dedaunan dan satu poster besar seorang pria bule bernama Tjok Gde Kerthyasa. Rasanya aku pernah melihatnya, tapi tak ingat di mana.

Inilah fakta baru yang aku tahu. Fakta baru yang akan ramai jadi perbincangan jika sampai ke tangan wartawan infotainment mungkin juga ke tangan para anti. Aku bergidik jika sampai semua ini terbongkar.

Saliana keluar dari suatu ruangan yang terhalang hanya oleh sehelai gorden dengan ruangan kecil ini. Ia membawa kotak obat-obatan dan mulai mengurusi luka di ujung bibirku. Wajahnya masih mendung dan matanya masih redup. Namun, di sisi lain aku merasa senang dengan caranya mengurusi lukaku, dari mulai membersihkannya sampai menutupnya dengan plester. Begitu selesai dengan urusan lukaku, dia pun memadangiku begitu dalam. Beradu pandang yang penuh makna rasanya kali ini.

Sang ibu datang membawakan kami dua cangkir teh dan satu piring kudapan yang beraneka ragam. Saliana pun berhenti memandangku. Ia kemudian menundukan kepalanya.

“Maaf, aku nggak pernah cerita soal ini,” Ungkapnya dengan nada penyesalan.

“Tentang apa?” jawabku berusaha setenang mungkin.

“Kehidupanku. Ini alasannya kenapa aku nggak pernah mau dianter sama kamu,” jawabnya dengan sedikit senyum pahit.

“Oh!” balasku pendek. Aku berusaha biasa-biasa saja.

Pada situasi seperti ini rasanya ingin menyingkirkan pembicaraan masalah perbedaan kondisi sosial ekonomi. Aku lihat sekelilingku untuk mencari bahan pembicaraan  yang bisa menjauhkan dia dari rasa rendah diri karena keadaannya. Tuan, siapa pun dirimu, terima kasih telah terpajang di depanku. Gumamku pada poster Tjok Gde itu.

“Dia siapa?” tanyaku. Akhirnya dia menengadahkan kepalanya. Senyum samar terpancar dari bibir mungilnya.

“Mimpiku!” tegasnya.

“Maksudnya?”

“Aku ingin bisa seperti dia, menjadi praktisi homeopati,”

“Homeo…pati?” ulangku tak paham kata asing ini.

“Ilmu pengobatan alami dengan prinsip serupa dapat menyembuhkan yang serupa,” jelasnya. Aku mengangguk-angguk saja walau belum paham benar apa itu maksudnya. Gelap!

“Seperti durian. Jika kita makan terlalu banyak tubuh kita akan panas, maka untuk mengurangi rasa panas tersebut kita bisa minum air dari kulit durian tersebut. Durian bisa membuat kita terserang penyakit tapi durian juga yang bisa menyembuhkannya. Itu yang dimaksud serupa menyembuhkan serupa,” paparnya seolah bisa membaca pikiranku.

“Oh!” seruku. Akhirnya terang benderang juga otakku.

Ah! Seperti biasa aku suka saat dia menjelaskan sesuatu, begitu berkesan, begitu memikat, begitu memesona.

“Berarti kalau ada orang yang merasa sedih karena seseorang tetapi seseorang itu juga yang dapat membuatnya bahagia bisa termasuk kategori pengobatan homeopati juga, ya?” lanjutku asal. Namun, kalimat asal ini berhasil membuatnya menatapku sambil tersenyum untuk beberapa saat.

“Nanti akan aku bayar utangku,” ungkapnya tiba-tiba.

“Terserah kamu saja,” jawabku.

Mengapa tidak kukatakan ‘tidak usah’? Uang dua juta setengah bisa kudapatkan dari manggung satu kali, itu pun masih lebih banyak. Memberikannya kepada Saliana tak akan membuatku jatuh miskin. Namun, sekarang aku setahap mengetahui siapa itu Saliana. Perempuan tegar yang memiliki mimpi dan harga diri. Maka akan aku jaga harga dirinya dengan membiarkan dia berusaha melunasi hutangnya itu.

***

Mamah tentu panik dan khawatir ketika melihat wajah anaknya ini bengkak dengan hiasan plester di ujung bibir.  “Baru main adegan jagoan, Mah!” jelasku santai sambil berlalu begitu saja.

Reaksi yang sama ditunjukan oleh Ilham yang paling pertama melihatku saat kami berkumpul di backstage saat akan manggung. Begitu personal lain melihatku, langsung saja kepanikan terjadi. Bukan hanya pertanyaan mengapa aku bisa babak belur yang muncul, tapi bagaimana menutupi wajahku saat manggung nanti.

Setelah berunding begitu lama, akhirnya aku memutuskan untuk menutupi bengkak ini dengan masker. Teman-temanku yang lain bertugas untuk menjelaskan kalau  aku sedang sakit tenggorokan dan batuk sehingga harus selalu ditutup oleh masker. Dengan siasat ini cukuplah membuatku terhindar dari keharusan bicara dan tugasku di panggung nanti hanya menari to.

Seperti biasanya penampilan SMASH memang selalu penuh dengan jeritan dari para remaja yang tak kukenal namanya, tetapi mereka begitu mengenalku. Saat pembawa acara menanyakan mengapa aku memakai masker, Rafael dengan apiknya menjelaskan kondisiku sesuai skenario. Saat di panggung aku pun berkacamata hitam, jadi mereka tak akan bisa membaca kebohonganku. Aku hanya mengangguk-angguk saja mengiyakan.

“Wah! Lihat! Profesional banget! Walau lagi sakit tapi Dicky tetap manggung demi para Smasblast,” ungkap pembawa acara itu. Betapa konyolnya! Kebohongan dikatakan sebagai profesionalisme.

“Gua juga belum tentu bisa kayak gitu. You are the  real hero di SMASH, Dik,” ungkap Morgan setelah kuceritakan kejadian kemarin padanya. Morgan lalu menepuk pundakku seraya berlalu meninggalkanku dengan sebuah SMS dari Saliana.

Apa lukanya sudah agak baikan? Gimana makan? Pasti nggak enak ngunyahkan? Maaf ya jadi harus manggung pake masker.

Senang sekali mendapat perhatian seperti ini. Luka ini memang harus ada untuk ini, untuk perhatian ini.

Ya, lumaya susah ngunyah, tapi nggak apa-apa kok. Eh Sal, sebelum aku Jogja, aku ingin ketemu sama kamu. Besok kamu pulangnya agak siang, kan? Aku jemput ya.

***

Musim penghujan ini membuat siang tak terasa begitu terik. Aku menjemputnya dari apotek dan mengantarnya pulang ke rumah.  Aku masuk lagi ke rumah mungil tempat tertempelnya dokter bule praktisi  homeopati itu. Aku pun mengeluarkan foto diriku berukuran A4 dengan gaya rapi dan senyum penuh wibawa. Aku tempelkan fotoku itu di samping tuan praktisi homeopati.

“Kayaknya aku mulai iri sama bule itu,” kataku. Saliana tertawa saja.

“Aku ingin hidupku berubah!” ujarnya tiba-tiba. “karena itu aku harus punya mimpi. Setidaknya itu yang masih aku punya dalam kondisi ini. Jadi aku bertekad untuk seperti dia,”

“Pasti bisa!” timpalku yakin.  Saliana pun terlihat menjadi lebih bersemangat.

Hening sesaat. Kami berdua masih memandangi fotoku dan Tuan Bule yang tampan itu. Segalanya terasa tenang kecuali detak jantungku yang berpacu tak normal.

“Sal…” ucapku hati-hati.

“Ya?”

“Mau jadi pacarku, nggak?”

Pandangannya pun perlahan terarah padaku.

“Dengan alasan?” tanyanya.

“Hemh… aku suka aja sama kamu,”

Saliana menarik napas yang begitu panjang.

“Apa alasan itu nggak cukup?” tanyaku hati-hati. Saliana hanya menatap dalam ke arah mataku untuk beberapa saat.

“Ikut aku!” pintanya seraya berdiri dan berjalan ke arah pintu. Aku pun mengikutinya.

Kami berdua menyusuri jalanan di daerah yang masih seperti pedesaan itu. Sawah demi sawah, lapang demi lapang, sampai akhirnya kami berada di sebuah tanah yang rimbun dengan segala macam jenis tanaman.

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

“Ah! Di sana!” pekiknya senang. Dia pun berlari ke arah pohon-pohon pendek dengan bunga-bunganya yang berwarna pink keunguan dan putih.

Impatiens Balsamina Linn!” seruya.

“Apa? Ini kan cuma pohon pacar air,” tandasku.

“Iya, nama latinnya Impatiens Balsamina Linn,” tukasnya.

Impatiens Balsamina Linn! Aku kira mantra Harry Potter!” selaku sambil tertawa renyah.

Saliana lalu memetik daun dari pohon itu dan memberikannya padaku. Ia sendiri memetik beberapa lembar. Kemudian ia tumbuk daun itu dengan batu seperti orang yang sedang mengulek bumbu dapur. Sembari membuat ramuan untuk mewarnai kuku itu, ia pun menjelaskan kepadaku tentang daun ini.

“Kamu pikir dari mana kata pacaran itu bermula? Kata pacar, selain bermakna orang yang kita pacari, makna lainnya tentu merujuk pada kata pohon ini. Zaman dahulu di masyarakat Melayu kalau seorang laki-laki dan seorang perempuan saling tertarik  mereka akan menggunakan pacar sebagai tanda adanya hubungan khusus di antara mereka, pacar di kuku akan hilang setelah tiga bulan. Selama tiga bulan itulah sang laki-laki harus mempersiapkan segala kebutuhan untuk melamar sang perempuan. Kalau dalam tiga bulan itu sang laki-laki tidak mampu melakukannya maka sang perempuan boleh memutuskannya. Nah, itulah yang dinamakan masa pacaran. Kalau aku pikir, masa pacaran zaman dulu adalah masa di mana sang laki-laki harus membanting tulang mencari modal untuk kehidupan mereka berdua kelak. Elok bukan makna pacaran zaman dulu?” tanya Saliana sambil membaluti kuku tangan kirinya dengan tumbukan daun pacar yang sudah halus.

“Kalau kamu ingin menjadi pacarku dengan definisi zaman sekarang seperti kemana-mana harus berdua, sayang-sayangan, peluk-pelukan, apalagi cium-ciuman, rasanya kamu salah alamat. Aku orang yang konservatif, bukan orang modern.

“Selain itu, kamu tahu sendiri kondisiku. Seperti acara-acara reality show yang menampakkan kesulitan hidup, walau aku tak ingin menjadi objek menyedihkan seperti itu. Aku akan terus berusaha mengubah kehidupanku, dan orang yang kubutuhkan bukanlah pacar seperti anak-anak saat ini, tapi seseorang yang bisa mendukungku agar mimpiku teruwujud. Agar aku bisa keluar dari cerita reality show yang menyedihkan ini.

“Ayahku meninggalkan aku dan ibuku begitu saja saat aku masih kecil, benar-benar mirip acara reality show, kan? Ayahku mungkin meninggalkan kami karena kemiskinan, tapi kamu bisa saja meninggalkanku karena… perempuan-perempuan dari kalanganmu yang lebih dariku.

“Ki! Aku senang dengan pertemanan kita yang aku rasa kamu pun merasa itu lebih dari teman, dan aku pun senang sekali dengan pernyataanmu yang memintaku jadi pacarmu, tapi aku ingin kamu lebih memikirkannya lagi. Aku masih kelas 2 SMK. Selama menanti aku lulus pun, bisa saja kamu berubah pikiran. Kita berdua masih sangat belia,”

Ia pun menutup penjelasannya yang panjang lebar itu dengan membuang tumbukan daun pacar yang mengering di kukunya. Kuku tangan kiri itu pun akhirnya berhiaskan warna kuning tua yang bersahaja.

“Jawabanku masih setengah,” ungkapnya sambil menunjukkan kuku-kuku tangan kirinya yang berwarna kuning tua. “Setengahnya lagi…” katanya sambil menunjukan kuku-kuku tangan kanannya yang paling polos. “Setelah kamu bisa menjawab semua rasa sangsiku,” sambungnya.

Aku hanya bisa terdiam melihat kuku-kuku berpacar itu. Ya, rasanya aku merasa terburu-buru.

“Hah! Perasaan waktu aku masih SMA, nggak kayak kamu,” ungkapku. “Perasaan nggak seribet ini kalau mau pacaran. Tapi oke, aku mau berpikir ulang.”

***

Jogja. Kota ini pun akhirnya menjadi kota untuk aku berkontemplasi meyakinkan diri untuk melanjutkan rasa sukaku atau tidak. Pertanyaan mengapa aku menyukai Saliana pun terus berdengung di kepala. Karena cara bicaranya kah? Karena sosoknya yang  tegar kah? Atau karena apa? Kuminta saran dari teman-temanku.

“Ki, kenapa kamu jadi serius gitu?”

Itulah kesan mereka semua. Aku telah berubah banyak dalam sebulan setengah saja.

Show di Jogja diadakan di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah beres kami makan  di tempat itu, tak disangka aku bertemu dengan Teh Sisil yang juga sedang makan di sana. Dan yang lebih mencengangkanku Teh Sisil di sana untuk bertemu dengan praktisi homeotapi itu.

Aku mengajak Teh Sisil ke hotel tempat aku menginap sebelum sore hari ia akan bertemu orang yang menjadi idola Saliana itu. Sebagai orang yang aku pikir cukup dekat dengan Saliana maka aku pun meminta pendapatnya.

“Saliana memang lebih tua dari usianya. Kehidupan yang membuatnya begitu, tapi emang bener juga pendapat dia. Kalian itu masih terlalu muda. Bagi kamu yang udah sering pacaran, putus nyambung adalah hal yang wajar, tapi Saliana itu orangnya tidak seperti itu. Dia selalu merencanakan hidupnya sebaik mungkin. Kalau kamu cuma ingin menjadikan dia ada dalam daftar pacar kamu semata, aku nggak tega, Ki. Tapi, kalau kamu mau serius, aku pikir tinggal jalankan filosofi pacar itu!”

“Maksudnya?”

“Pikirkan sendiri!” tegasnya. Kemudian ia pun meninggalkan hotel karena akan bertemu sainganku. Ah! Aku juga ingin bertemu dengan Tuan homoepati itu, tapi apa daya malam nanti aku harus manggung.

***

Bau kota Kembang kembali aku menyergapku setelah berkeliling ke beberapa kota. Masa untuk berkontemplasi pun sudah usai. Tiba saatnya untuk menyerahkan jawaban pada Saliana. Jawban yang sudah sangat aku pikirkan matang-matang.

Masa PKL Saliana pun sudah selesai, karena itu aku tak bisa menjemputnya lagi di apotek. Menjemput dia di sekolahnya adalah hal yang mustahil, maka aku pun langsung mendatangi rumah mungilnya di sore hari sambil membawa tanaman hias sansivieria –lidah mertua- yang pendek dalam pot berwarna bata.

“Ini! Katanya bisa menyerap racun,” ungkapku.

“Memang  begitu. Terima kasih!” jawabnya.

“Dan ini!” kataku sekali lagi sambil menyerahkan buku tabungan dan kartu ATM.

“Apa ini?” tanyanya terbengong-bengong.

“Kan pacaran itu waktunya laki-laki mempersiapkan segela kebutuhan,” ungkapku sambil tersenyum. “Aku serius Sal!”

Saliana masih bergeming. Dia seolah tak yakin dengan keputusanku. Ia lalu membuka buku tabungan itu yang saldo awalnya hanya lima juta.

“Tapi jangan tiga bulan ya, kayaknya butuh waktu bertahun-tahun untuk aku siap melamar kamu,” jelasku.

“Bagaimana mungkin kamu mempercayakan uang kamu sama aku kayak gini?” tanya Saliana. “Ki, jangan mempertaruhkan masa depan kamu dengan cara ini! Aku juga manusia biasa yang bisa tergoda dengan uang seperti ini!” tegasnya.

“Aku yakin sama kamu Sal!”

“Terima kasih, tapi…”

“Ternyata kamu yang nggak yakin…”

Saliana pun membatu untuk beberapa saat.

“Sekarang giliranku untuk berpikir ulang,” lanjutnya.

Itulah jawabannya yang membuatku harus menunggu kembali berminggu-minggu.

***

Ada korsel di dekat rumahku. Bisa datang?

Itulah SMS darinya. Korsel?  Tidak salah. Di sana kan ramai. Kalau aku ketahuan bagaimana? Bisa berabe urusannya, tetapi demi sebuah jawaban aku pun memaksakan diriku untuk datang.

Korsel itu begitu sibuk dengan orang yang  berlalu-lalang. Selain karena malam kesibukan itulah yang membuat orang-orang tak menyadari keberadaanku.

Sebenarnya malam ini dinginnya biasa saja, tetapi Saliana muncul dengan tangan bersarung tangan. Ia menyembunyikan kukunya, menyembunyikan jawabannya. Kami lalu berjalan meninggalkan korsel itu. Berjalan menyusuri jalan dan menuju rumahnya tanpa pembicaraan. Entah mengapa dia mengajakku ke korsel kalau akhirnya pulang juga ke rumahnya.

“Itulah yang aku suka,” ungkapnya tiba-tiba. Kalimat yang tidak aku mengerti. “Aku suka berjalan denganmu seperti itu, bukan seperti anak – anak SMA seusiaku. “Bisa kah tetap seperti itu?” tanyanya.

“Sederhana!” sahutku. “Akhirnya aku tahu jawaban mengapa aku menyukaimu,” sambungku.

Saliana tersenyum begitu rupawan. Ia lalu mengambil buku tabungan dan kartu ATM yang kuberikan padanya.

“Sebegitu percayanya kah kamu sama aku?” tanyanya. Aku pun mengangguk yakin. “Tapi kamu tahu, aku tidak percaya diri. Karena itu aku ingin kamu menyimpan ini,” ungkapnya sambil memberikan secarik kertas. Sebuah pernyataan kalau dirinya tidak akan mengambil uang di ATM itu sepeser pun sampai Dicky M Prasetya melamarnya. Surat pernyataan itu ia tandatangani di atas materai dan dibuat dua salinan.

Saliana kemudian beranjak ke meja yang penuh dengan pakaian menggunung. Ia nyalakan strikanya dan melepas sarung tangannya. Kedua belah tangan itu kukunya berwarna jingga yang merona. Semuanya berpacar.

Rabu, 19 Desember 2012

Harap sertakan sumber jika ingin meng-copy-paste cerita ini ^^

Categories: CERITA Tags: , ,
  1. Alivia Rezekika
    November 8, 2013 at 2:07 pm

    lanjut dong

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: