Home > CERITA > Tantangan untuk SMASH -The Second story

Tantangan untuk SMASH -The Second story

Kesejukan menyelimuti Bandung di pagi hari. Semua warna tampak bening di depan mata tanpa kabut apapun menghalangi. Setelah kemarin lelah manggung, hari ini seperti sebuah hadiah bagiku. Dengan wajah tak henti-hentinya tersenyum aku menuju rumah Diza yang kemarin mengundangku  untuk datang ke rumahnya. Inilah kali pertamanya aku akan bertandang ke kediamannya.

Aku parkirkan mobillku di depan rumah yang sangat Asri. Pagarnya kayu yang rendah dengan kebun yang menyejukan mata. Warna-warni bunga membuat orang betah menatapnya berlama-lama. Benar-benar rumah yang merepresentasikan pemiliknya. Tak lama berselang Diza membuka pintu rumahnya. Ia lalu berjalan menghampiriku.

Dia mengenakan baju berwarna putih dengan rok selutut berwarna pink. Rambutnya yang kutahu lurus itu sedikit diikal. Wajahnya tampak begitu cerah walau tak seputih artis-artis ibu kota. Ia pun memasang senyum pramugari Garuda seperti di iklan. Dia adalah bidadari pagi.

“Selamat pagi!” sapanya sambil memamerkan senyum pegawai SPBU-nya yang selalu membuatku berterima kasih pada ibuku karena telah melahirkanku hingga aku memiliki kesempatan untuk bertemu bidadari pagiku.

“Kamu kelihatan beda!” kataku.

“Gimana? Bagus gini atau pake seragam pertamina?”

“Keduanya pun memukau!” jawabku. “jadi ingin nyanyi…”

“Nyanyi apa?”

“Kau cantik hari ini… dan aku suka,” pujiku. Dia tersenyum.

Diza membukakan pagar untukku dan mempersilahkan aku dan mobilku masuk ke halaman rumahnya yang bak halaman istana kerajaan itu. Kami pun  masuk ke dalam rumahnya yang tak kalah uniknya dari halaman depan. Dari depan rumah itu terlihat kecil, tetapi sebenarnya memanjang dan di bagian belakang terdapat halaman yang lebih luas daripada halaman depan. Dia lebih kaya dibanding semua anggota SMASH, bahkan kalau bayaran anggota SMASH disatukan pun mungkin perlu waktu sampai puluhan tahun untuk menyamai kekayaannya.

Selama aku berjalan dengannya menuju taman belakang, aku merasa ada yang aneh. Ini bukan seperti Diza yang kukenal. Untuk apa dia berdandan seperti itu pagi ini? Bukankah dia bukan tipe orang yang suka berdandan? Lalu mengapa sikapnya manis sekali? Bahkan tidak ada taburan keketusan yang biasanya dia perlihatkan padaku.

Diza menyuruhku duduk di meja makan unik yang diletakan di tengah-tengah taman. Ini seperti meja sarapan gaya orang barat. Tak lama kemudian Diza pun datang dengan piring besar bersisi segala bermacam-macam makanan.

English Breakfast!” ungkapnya sambil menyuguhkan makan di piring itu padaku.

“Kamu yang buat?” tanyaku. Dia tersenyum lalu menggeleng.

“Dari temanku yang kerja di hotel,”  jawabnya lugu.

“Kirain buatan kamu,”

Aku hanya menatap sarapan itu, masih berpikir-pikir apa dulu yang akan aku masukan ke dalam mulutku. Kacangnya, sosisnya, telurnya, tetapi tiba-tiba saja Diza memotong sosisnya dan menodongkannya ke mulutku. Aku tercengang. Ini bukan Diza. Jelas-jelas ini bukan dirinya.

“Hari ini kamu bukan cuma cantik, tapi juga aneh,” ujarku. “Ada apa sih?”

“Cuma mau nyoba gaya pacaran anak SMA,” jawab Diza dengan ekspresi yang kembali pada sifatnya yang asli, manis pedas. Seperti  Latte dengan blackpepper granule.

“Cepetan makannya, nanti ada yang mau aku omongin ama kamu,” suruhnya sambil menjejalkan sosis itu masuk ke mulutku dengan paksa tanpa ada romantis-romantisnya. Aku tersenyum senang melihat dia kembali ke sifat aslinya. Aku pun segera menghabiskan English Breakfast yang ada di hadapanku.

“Mau ngomong apa?” tanyaku begitu aku selesai menyantap habis sarapanku.

“Hari ini aku ingin ngajak kamu ke suatu tempat,”

“Ke mana?”

“Tempat yang sangat umum, nanti sekitar jam sebelasan,” ungkapnya tanpa menjelaskan lebih rinci.

Sambil menunggu jam sebelas, aku berkeliling di rumah Diza yang mengaggumkan. Rumahnya berarsitek Eropa, tetapi dihiasi ornamen yang sangat Indonesia. Diza pun mengajakku ke perpustakaannya yang membuatku sangat tercengang dengan koleksi buku-bukunya.

“Kamu baca ini semua?” tanyaku.

“Nggak, tapi perpustakaan ini bener-bener bisa jadi referensi berpikir aku buat menghadapi kamu,”

“Pantesan…”

“Ayo pergi!” ajaknya setelah ia melirik jam di dinding yang menunjukan hampir pukul sebelas.

Aku tersenyum riang begitu menyadari suatu hal saat kami ada di halaman luar. Akhirnya… oh akhirnya! Diza akan naik mobilku. Ini yang selalu aku harapkan, karena dia tidak pernah mau aku antar, aku tak pernah sekali pun mendapatkan dia di sampingku saat aku sedang menyetir. Saking senangnya, aku pun membukakan pintu mobil untuknya, tetapi dia tersenyum mencurigakan lalu membuka pintu mobil bagian belakang. Wajahku langsung dipenuhi kekecewaan. Dengan wajah muram kututup kembali pintu mobil. Ternyata Diza pun melakukan hal yang sama. Dia menutup pintu belakang dan membuka pintu depan.  Senyumku pun memuncah. Diza memang gadis dengan penuh kejutan.

“Kenapa? Nggak suka ya kalau pintunya aku bukain?” tanyaku saat mobilku sudah melaju di jalan komplek perumahannya.

“Tadinya ingin tahu gimana rasanya kalau punya sopir selebritis, kebetulan ayahku lagi cari sopir baru,” jawabnya sambil  tertawa diiringi senyumku.

“Diz, makasih ya!”

“Kenapa emang?”

“Akhirnya mimpiku bisa nyetir didampingi kamu terlaksana juga. Dulu saking inginnya, aku bakalan pasrah kalau kamu ngajakin aku ngobrolin pendidikan di Indonesia, ” jelasku jujur.

“Gitu?” tanyanya sedikit tercengang. “Sekarang juga kita akan ke tempat yang berhubungan dengan pendidikan,”

“Oh ya? Kemana? Ke perpustakaan? Baca buku bareng terus diskusi bareng?” tanyaku girang.

“Perpustakaan? Hemh… ide yang bagus! Gaya pacaran yang sehat dan mencerdaskan. Boleh dicoba,” jawabnya serius.

Diza tidak menceritakan apapun walau aku paksa dia untuk menjelaskan tempat tujuan kami. Aku jadi membayangkan yang tidak-tidak. Mungkinkah dia akan memberikan kejutan yang spektakuler penuh dengan bunga? Namun, betapa naifnya aku jika berpikir begitu. Diza bukan anak SMA yang senang merayakan sesuatu kisah percintaan dengan bunga-bunga, aku dan dia bahkan tidak punya foto bersama.

“Tadi kenapa kamu so manis-manis gitu di depan aku?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Aku lagi ngerayu kamu, aku kan punya keinginan yang ingin kamu mengabulkannya,”

“Padahal nggak harus kayak gitu juga, aku pasti ngabulin semua keinginan kamu,”

“Beneran?”

“Lah, jadi duta baca, duta buang sampah pada tempatnya. Apa coba yang nggak aku lakuin buat kamu?” tanyaku dan dia hanya tersenyum.

Akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan. Sekolah! Ya, sebuah SMA yang murid-muridnya baru saja bubaran. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Apa dia akan membuat sebuah kejutan? Anak-anak di kumpulkan di aula, lalu dengan tiba-tiba aku muncul dan bernyanyi dan mereka langsung histeris. Namun, itu sangat tidak mungkin karena anak-anaknya malah dibiarkan pulang.

“Ngapain sih?” paksaku.

“Nanti juga kamu tau,” jawab Diza dingin. Tanpa terlalu mempedulikan aku, Diza pun meraih ponselnya dan menelepon seseorang.

“Aku udah ama Bisma sekarang di depan sekolah. Udah aman sekarang?” tanyanya pada seseorang ditelepon. “Ok!” ujarnya lalu mematikan ponselnya.

“Kamu mau  nyelundupin aku ke sekolah?”

“Maju!” suruhnya tanpa menjawabku.

Kami keluar dari mobil. Otakku masih menerka-nerka apa yang ingin dia inginkan dariku. Aku masih berpikir mungkin memang ada beberapa kelas lagi yang muridnya belum pulang, dan aku akan menjadi tamu kejutan, tetapi bagaimana pun otak warasku tidak menerima tebakan itu karena sangat tidak mungkin Diza melakukannya.

Dan memang bukan!

Diza ternyata menyuruhku datang ke sekolah untuk mengenalkanku pada seorang guru di sana. Awalnya aku pikir guru itu fansku atau kalau pun tidak, anaknya adalah fansku yang ingin foto dan tanda tanganku. Namun, setelah aku tahu maksudnya Diza, aku pun hanya bergumam dalam hati: Bisma, kamu kayak yang nggak kenal Diza aja!

Guru itu namanya Triyani, guru Bahasa Indonesia. Aku pun seperti langsung dapat clue begitu mengetahui profesi Bu Triyani ini. Sang guru bahasa Indonesia itu pun mengajakku ke kelas dan menyuruhku melihat coretan-coretan type-ex di tembok dan bangku.

Qw chaiiank Gasz clalu.

 Ahnz lupzs Drie.

Hnya drmu eank qw mauw

0909 sangad cinta banggeudt

Luph u 4ever

Khint saiank Ajj

Tertebaklah maksud mereka berdua menyuruhku melihat ini semua. Guru Bahasa Indoneisa, dan Bahasa Alay. Sangat jelas apa yang guru bahasa Indonesia ini mau dari diriku. Aku melirik Diza sambil menghela napas.

“Kamu mau aku jadi duta apalagi? Duta berbahasa Indonesia yang baik dan sesuai EYD?” tanyaku sambil tersenyum. Bu Triyani pun ikut tersenyum.

Lagi-lagi ini tentang Indonesia dan mencerdaskan hidup bangsa, dan aku harus menjadi relawan negara untuk perbaikan generasi bangsa.

“Mencoreti tembok itu sudah kesalahan ditambah dengan bahasa alay, saya sudah tidak bisa memaafkannya,” jelas bu Triyani.

Tak hanya coretan di tembok, bu Triyani pun memperlihatkan hasil karangan anak-anak SMA dan menjelaskan padaku bagaimana struktur bahasa Indonesia di karangan mereka menjadi kacau walau tulisannya tidak sealay yang aku lihat di tembok. Bukan hanya itu, menurut bu Triyani diksi dan isi karangan pun begitu banal dan tidak memiliki nilai estetika.

Bu Triyani kemudian menatapku dalam-dalam. Tatapannya mengalahkan tatapan Diza jika dia sedang serius menodongku dengan keinginannya untuk memajukan bangsa. Bu Triyani seperti ingin menerkamku. Dia seolah sedang mempersiapkan amunisi untuk ditembakkan padaku.

“SMASH, Seven Man As Seven Heroes!” tegas bu Triyani. “Heroes…Di mana letak pahlawannya?”  sambungnya. Ya, amunisi yang disiapkannya tadi telah ia tembakan tepat di paru-paruku hingga napasku terasa tersekat dan mati begitu mendengarnya. Ternyata baik Diza dan Bu Triyani adalah sama-sama orang yang buas dalam bahasa verbal  jika mereka sedang berjuang untuk negara.

Aku belum bisa menjawab apa-apa. Yang paling umum , biasanya selalu aku katakan, bahwa kami ingin memberikan inspirasi bagi anak muda untuk melakukan hal yang positif. Namun, sebelum kata-kata itu aku luncurkan, bu Triyani terlebih dahulu meluncurkan serangan senapan mesinnya.

“Hanya karena menari dan menyanyi dan berhasil membuat perempuan berteriak-teriak dan pingsan, untuk saya itu tak cukup dan belum layak untuk diberi gelar pahlawan. Apa itu pahlawan? Seseorang yang berjasa. Di mana letak jasa kalian? Memberikan tontonan panggung  gratis sampai anak-anak tak sekolah?” tanya guru itu bertubi-tubi, hingga aku tak sempat membela diri. Aku mulai merasa dadaku panas dan marah oleh semua tudingan itu. Apa salahku jika mereka berbahasa alay? Sebelum SMASH ada pun mereka sudah berbahasa alay, jadi mengapa semuanya ditudingkan pada SMASH. Aku sedikit murka dan kulihat Diza hanya bisa terdiam dengan tatapan mata kosong.

“Dulu pemuda Indonesia pernah bersumpah untuk berbahasa satu, Bahasa Indonesia, dan sekarang pemuda Indonesia pula yang menghancurkan bahasanya. Inilah bangsa yang tidak bisa menghargai perjuangan pendahulunya,” jelas Diza.  Alih-alih membelaku, Diza malah berdiri di pihak bu Triyani. Namun, mendengarnya mengatakan itu aku seakan terenyuh. Nada bicara Diza begitu penuh pengertian, tidak berapi-api tapi aku dapat merasakan geloranya.

“Karena itu, inilah kesempatanmu untuk benar-benar menjadi pahlawan,” tiba-tiba bu Triyani pun bertutur dengan nada lembut tanpa ada nada menyudutkanku. “Saya menantang kamu, dan teman-teman kamu untuk bergerak memperbaiki bahasa anak-anak remaja saat ini. Buatlah gerakan agar mereka kembali  menghormati bahasa negara mereka,” jelas bu Triyani. Aku hanya mengangguk tanpa mampu mengungkapkan kata “ya”.

“Berapa banyak orang  yang akan kembali berbahasa Indonesia dengan baik dalam sebulan?” tanya bu Triyani. Aku hanya memperlihatkan wajah yang sedang berpikir menerka-nerka angka yang cocok.

“100 persen dari semua penggemar SMASH!” tegas Diza tiba-tiba.

“Gila!” Tukasku. “Aku bukan dewa! Gimana caranya aku bisa ngubah mereka?” tanyaku bingung, tetapi Diza hanya tersenyum. Senyuman yang penuh teka-teki.

* **

“Tadi kamu marah?” tanya Diza saat kami sudah kembali dalam mobil dan hendak kembali ke tempatku.

“Tentu aja! Ke-alay-an mereka bukan kesalahan SMASH! Apalagi dia ngangkat masalah nama SMASH pula,”

“Jadi kalian sudah merasa layak mendapatkan gelar pahlawan?” tanyanya yang terus terang membuatku dongkol walaupun aku memang merasa belum layak aku memiliki gelar itu.

“Berhenti di sana!” pinta Diza tiba-tiba. Ia memintaku memarkirkan mobil di swalayan kecil dan langsung keluar dari mobil dan memasuki toko kecil itu. Tak berapa lama dia keluar dengan dua eskrim rasa coklat dan langsung memberikannya padaku begitu ia kembali masuk mobil.

“Katanya coklat bisa meningkatkan serotonin,”

“Apa itu?”

“Sejenis hormon yang membuat kita senang,” jawabnya. Aku pun tersenyum kagum pada pengetahuannya.  Pantas saja dia bilang perpustakaan adalah referensi berpikirnya dalam menghadapiku.

“Ini kan tantangan,” ujarku. “Berarti ada hadiahnya dong kalau aku bisa membuat 100% smashblast berbahasa Indonesia dengan baik,”

“Emh… sertifikat penghargaan untuk usaha memperbaiki cara berbahasa di kalangan remaja?”

“Ah… cuma selembar kertas gitu doang,”

“Emh… Liburan ke Bali?”

“Ah… bosen,”

“Emh… aku?” tanyanya sambil memperlihatkan mata penuh tawaran.

“Emangnya kamu barang, bisa dijadiin hadiah,” jawabku. Diza pun tersenyum sangat lebar mendengarnya seakan-akan aku telah mengucapkan kalimat tingkat tinggi dan sangat fantastis.

“Aku nonton SMASH manggung?” katanya menawarkan pilihan baru yang membuat mataku terbelalak tak percaya.

“Bener?” tanyaku dengan perasaan tak jelas antara senang dan tak yakin, tapi Diza meyakinkanku dengan anggukan yang penuh kemantapan.

“Asal pastikan yang menontonnya hanya aku saja,” ungkapnya. Tawa bahagiaku sedikit memudar mendengarnya.

“Kenapa?”

“Aku bukan tipe orang menonton acara musik ditemani teriakan tak putus-putus hingga mengalahkan suara penyanyinya. Paling aku cuma akan tepuk tangan di akhir pertunjukan,” jelasnya. Aku pun bisa memahaminya dan setuju dengan tantangan ini.

***

Semenjak aku berhubungan dengan Diza, anggota SMASH yang lain jadi kena getahnya karena harus sama-sama menjadi duta seperti yang Diza mau, tak terkecuali tantangan kali ini. Untunglah mereka adalah sahabat baik yang melakukan semuanya untuk kebahagianku, dan karena mereka sendiri ingin melihat Diza akhirnya menonton SMASH manggung. Usaha pertama kami adalah dengan memasang status untuk mengajak smashblast bersama-sama kembali berbahasa Indonesia dengan baik.

SMASH cinta bahasa Indonesia

Kami mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia

SMASH tak mengerti bahasa alay, diharapkan para smashblast menulis dalam bahasa Indonesia yang bisa dimengerti!

Hormat SMASH pada pejuang yang telah memperjuangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Selain status-status kami yang mengajak pada jalan kebenaran dalam berbahasa, kami pun selalu menyelipkan pesan untuk berbahasa Indonesia yang baik di setiap kami manggung. Ternyata pesan kami lumayan sampai. Diza mengirimiku SMS kalau murid-muridnya bu Triyani, setengahnya sudah menulis sms padanya dengan singkatan umum yang dimengerti olehnya dan karangan murid-murid itu pun ada kemajuan. Bahkan ada murid yang membuat karangan yang isinya berterima kasih pada SMASH karena telah membuatnya bertobat untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Namun, ternyata tak mungkin bagi kami dalam sebulan untuk mengubah 100% anak-anak untuk kembali ke jalan yang lurus dalam berbahasa.  Aku pun harus mengubur keinginanku untuk melihat Diza duduk di depanku dan melihatku tampil.

Beberapa hari sebelum hari tantangan usai, tiba-tiba sebuah ide muncul entah bagaimana. Bukan ide yang sempurna, tapi daripada tidak dicoba sama sekali. Akhirnya aku memberanikan diri untuk merealisasikannya. Aku melakukan banyak persiapan sebelum hari terakhir itu datang. Lagi-lagi anggota SMASH yang lain pun harus rela latihan untuk acara rahasia yang aku persiapkan ini.

Aku sms Diza sehari sebelum hari terakhir tantangan. Aku menyuruh Diza dan bu Triyani datang ke Jakarta di hari minggu, hari terakhir tantangan. Begitu tercengangnya mereka saat melihat banyaknya smashblast menggunakan baju seragam kumpul di sebuah lapangan yang sangat luas. Mereka datang bukan untuk menonton kami manggung, tapi untuk mengikuti upacara dengan petugas upacaranya SMASH dibantu oleh beberapa anggota paskibra. Morgan, Rangga, dan Dicki menjadi petugas pengibar bendera. Reza sebagai pemimpin upacara dan Ilham membaca Undang-Undang. Sisanya dipegang oleh anggota paskibra. Aku? Aku Bisma Karisma akan menjadi penyampai pesan, maka akupun  berdiri sebagai pembina upacara. Semuanya tampak gagah dengan pekerjaan barunya, bahkan aku pun merasa begitu.

“Amanat pembina upacara, pasukan diistirahatkan,” ucap protokol. Reza pun mengistirahatkan pasukan dengan suara yang lantang.

“Assalamualaikum Warohmatulohi Wabarakatu,” sapaku dan semua pasukan pun menjawab serempak. “Hari ini bukanlah hari yang istimewa di kalender, tidak acara kenegaraan yang membuat kita harus upacara hari ini, anggaplah ini sebagai latihan upacara untuk  anak-anak yang akan upacara bendera besok,” basa-basiku. “Terima kasih telah melakukan pesan berantai, hingga acara hari ini tidak sampai bocor di internet dan benar-benar dapat menjadi acara kejutan untuk semua orang Indonesia yang menontonnya. Hari ini memang bukan hari yang istimewa, tetapi saya harapkan hari ini, hari yang akan menjadi hari yang istimewa bagi kita semua. Dan… yang saya ingin sampaikan pada kalian saat ini adalah, saya ingin kalian untuk mengikuti saya mengucapkan sumpah pemuda walau hari ini bukan hari sumpah pemuda,” ujarku. Terdengar para smashblast bergumam menyebutkan sumpah pemuda. Aku pun melanjutkan kata-kataku.

“Seorang guru bahasa Indonesia bercerita pada saya mengenai keprihatinannya karena rusaknya bahasa Indonesia saat ini, hingga penting menurut saya untuk kita semua memahami sumpah pemuda sebagai perjuangan, bukan sekedar kata-kata semata,” jelasku sebelum akhirnya aku membaca sumpah pemuda yang diucap ulang oleh para smashblast. Aku menekankan dengan keras kalimat untuk berbahasa satu, bahasa Indonesia dan sepertinya mereka pun mengerti pesan apa yang ingin aku sampaikan.

“Setelah ikrar ini, saya harap para smashblast menghormati bahasa Indonesia sebagai bahasa yang telah diperjuangkan sebagai bahasa persatuan,” jelasku sebagai kalimat penutup.

***

Di taman belakang rumahnya yang luas bidadari pagiku yang manis duduk sambil tersenyam-senyum melihat kami menari dan menyanyi. Entah mengapa ditonton oleh dirinya yang hanya sendiri itu lebih nervous dibanding ditonton oleh ribuan smashblast. Aku seolah sedang ditonton oleh anggota kerajaan hingga banyak melakukan kesalahan saat menari.

Sebenarnya kami gagal dengan tantangan itu, karena aku masih menemukan beberapa smashblast masih ber-alay ria, tetapi Diza tetap memaksa kami datang untuk manggung di rumahnya. Bu, Triyani pun ternyata sangat menghargai usaha kami untuk melakukan perubahan dalam cara berbahasa anak-anak remaja.

“Oh begitu toh lagu SMASH tuh,” ungkap Diza begitu kami turun panggung.

“Beneran belum pernah denger lagu kita?” tanya Dicki. Diza mengangguk  pasti dan  kemudian memberikan selembar piagam pada setiap orang dari kami.

“ Ini dari bu Triyani,” katanya.

“Pahlawan Gerakan Cinta Berbahasa Indonesia yang Baik!” ucapku tak percaya dengan pencantuman kata pahlawan. “Setelah semuanya, aku merasa yakin aku nggak layak untuk kata ini, pahlawan,” ucapku.

“Kamu lihat dong cap dan logonya. Tidak ada logo diknas, tidak ada tutwuri handayani, atau cap sekolah. Kalian tentu saja belum diakui sebagai pahlawan oleh negara, tapi bagi bu Triyani kalian adalah pahlawan yang menyelamatkan anak-anak didiknya. Jangan kalian kira urusan bahasa adalah urusan enteng, Bahasa adalah penemuan terbesar umat manusia, hingga tentulah sangat besar jasa kalian bagi guru bahasa Indonesia seperti bu Triyani,” jelas Diza.

Kami semua terdiam mendengar penjelasan Diza sambil mengangguk-angguk kecil. Ternyata manusia itu bisa sangat berharga walaupun hal baik yang dilakukannya sangat kecil. Menghormati bahasa seperti hal yang sepele, tapi ternyata itu seperti menegaskan pada dunia sebuah pribadi bangsa.

“Sisanya akan kami selesaikan,” kata Morgan tiba-tiba memecah sepi.

“Maksudya?” tanya kami semua.

“Kan belum semua smashblast berbahasa Indonesia baik, jadi kita masih punya utang,” jelas Morgan.

Kami semua pun tersenyum dan mengangguk.

Pagi yang indah. Pagi yang penuh tawa, pemahaman dan inspirasi. Diza mengenalkanku pada banyak masalah di negara ini, tetapi ia pun mengenalkanku pada betapa indah dan berharganya dapat berbuat sesuatu demi negara ini.

28 Juni 2011

Mohon cantumkan sumber  jika ingin copy-paste cerita atau ilustrasinya. ^^

  1. June 29, 2011 at 10:27 am

    gw baca cerpen ini kebetulan pas di radio ada lagu SMASH Cinta Kau dan Dia ^^

  2. June 29, 2011 at 10:30 am

    Aku makin cintaaaaaaaaaaaaaaaaa sama Ira n SMASH ^^

    temenku di kantor…. suka banget sama SMASH,,, dan dia alay sekaliiiiii X_x

    andai dia baca ini ya ^^

  3. irnawati santong
    December 7, 2013 at 8:37 pm

    cerpen ya bagus, kita memang harus berbahasa indonesia dengan baik
    jauhakan alay
    dekatkan bahasa indonesia

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: