Reading Text Bahasa Korea dan Al-quran

Pagi!

Beneran loh saya ngetik ini pagi-pagi. Saat saya sedang mencoba menerjemahkan teks bacaan soal tes bahasa Korea. Tiba-tiba saya menemukan sebuah pemikiran, sebuah alasan mengapa Al-quran sering mengatakan dirinya adalah CAHAYA.

Saya coba terjemahkan teks soal TOPIK (Test of Proficiency in Korean) level Intermediate ke-25  soal no. 55~56.

Apakah alasan yang membuat penderita depresi meningkat saat malam semakin larut? Ketika tubuh kita tidak cukup mendapatkan cahaya maka akan sangat mudah terkena depresi. Hal ini terjadi karena otak sangat membutuhkan cahaya untuk membuat hormon yang mengatur suasana hati. Namun, pada penyakit depresi, walaupun dipancarkan cahaya yang terang pada telinganya, mereka dapat menolaknya.  Tim peneliti sebuah universitas melalui penelitiannya menemukan fakta bahwa apabila bagian dalam telinga disinari cahaya maka hal itu dapat mencegah depresi.  Otak manusia begitu peka terhadap cahaya sehingga apabila telinganya disinari cahaya maka akan terbentuk hormon. Berdasarkan penelitian ini dibuatlah earphone yang bisa mengeluarkan cahaya. Kenyataannya, pasien-pasien yang menggunakan earphone ini selama 8-12 menit setiap hari dalam sebulan,  suasana hati mereka yang depresi pun menghilang.

Nah, itulah mungkin alasannya mengapa mendengarkan Al-quran bisa menghilangkan depresi, karena setiap mendengarkan Al-quran berarti telinga kita sedang dipancarkan cahaya walaupun kita tidak pakai earphone yang  dibuat peneliti di atas. Namun, terima kasih atas penelitiannya yang berguna bagi pencerahan kita terhadap pengetahuan tentang Al-Quran.

Jadi harusnya yang baca Al-quran tidak usah galau lagi ya? Dan menutup telinganya pada Al-quran sama artinya dengan menolak cahaya…nah kalau sudah menolak cahaya tersebut  maka mungkin akan sulit sembuh dari depresi.

Semoga bermanfaat!

Teruslah meneliti!

Categories: Artikel Tags: , ,

Risau

Sudahlah risau pulanglah sekarang

Kau sudah terlalu lama bertamu di hatiku

Sekarang tahun sudah berganti

Maka, pulanglah kau risau

Kapan-kapan kau boleh datang lagi

Tapi kumohon kau tak perlu lagi menginap

Berlama-lama di hatiku

Risau, sudah saatnya kau pulang

Ya, mungkin nanti kau datang bersama rekan-rekanmu

Sang gundah gulana, sang resah gelisah, atau cucu mungilmu si galau

Ya, nanti saja ya.

Sekarang ruang tamu di hatiku terlalu sempit untuk menampung kalian

Terlalu sesak untuk kita bergosip ria.

Ya, nanti saja kalian datang

Setelah kuluaskan ruangan di hatiku

Setelah kupersiapkan dan perindah ruangan itu

Hingga kapan pun kalian datang

Ruang di hati itu tak akan lagi sesak

Risau,

Ruang tamu di hatiku, tempat kau kuterima,

tempat kau bermalam

tempat kau berlama-lama tinggal

Sekarang sudah berdebu

Dan aku ingin membersihkannya dulu

Karena itu, sekarang pulanglah kau risau

1 Januari 2013

Categories: PUISI Tags: , ,

Surat kepada para Cagub dan Cawagub Jawa Barat

December 29, 2012 1 comment

Dear,

Para Cagub dan Cawagub yang saya hormati

Semoga Anda sekalian tidak keberatan saya menggunakan sapaan dear agar ada kesan akrab antara saya dengan Anda sekalian yang akan menjadi pemimpin saya, walau sekali pun saya tidak pernah melihat Anda sekalian secara langsung.

Bapak-bapak dan Ibu, ada hal yang mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini tentang kota tempat kelahiran sekaligus tempat saya tumbuh

besar. Apakah masalah ini pun mengganggu pikiran Bapak-Bapak  dan Ibu atau tidak, saya kurang tahu, walau saya harap tentunya masalah ini mengganggu Anda sekalian, sebagai perwujudan bahwa Anda memahami perasaan saya. Selain itu, agar Anda sekalian dapat segera bertindak untuk membuat masalah ini tak mengganggu lagi. Permasalahannya sepele dan kecil Pak, Bu, tetapi entah mengapa terasa begitu menganggu saya.

Masalah yang mengganggu saya itu adalah tentang spanduk-spanduk dan baliho-baliho besar yang mengganggu keindahan taman-taman mungil di daerah saya dan mungkin juga di daerah-daerah lainnya di Jawa Barat. Yah, mungkin memang karena sudah mendekati masa pemilihan, spanduk dan baliho yang bertebaran di mana-mana bisa kita bilang emang geus wayahna. Namun, saya selalu berharap ada cara lain untuk mengiklankan diri karena pemasangan spanduk dan baliho di mana-mana membuat Bandung terlihat ramai tak jelas, yang jelasnya sih tak enak di pandang saja. Bukankah Bapak-Bapak dan Ibu sekalian ingin disebut pemimpin yang bersih, rasanya pemasangan spanduk besar-besar seperti ini malah mengotori kota Bandung. Saya rasa spanduk-spanduk iklan pun sudah cukup membuat kota Bandung tidak asri. Terus terang saja saya tidak tahu siapa yang memiliki wewenang untuk memperbolehkan dan melarang pemasangan spanduk yang menurut saya brutal ini. Besar-besar, di mana saja, tak diurus, dan satu lagi… entah saya yang tak tahu prosedur atau memang pemasangan spanduk dan baliho ini tidak sesuai prosedur. Yang saya tahu pemasangan spanduk dan baliho tentulah harus ada izinnya. Biasanya izin itu tertera di baliho dan spanduk berupa cap atau stiker, bukan?  Di spanduk dan baliho iklan memang saya temukan, tetapi saya tak menemukannya di spanduk dan baliho kampanye Cagub dan Cawagub. Apa ini boleh? Apa ini tidak liar? Kalau tidak ada izinnya, tidak bayar dong? Atau Bapak-Bapak sudah izin tapi tidak mencantumkan izin tersebut? Tolong jelaskan! Saya masih gelap! Namun, yang paling penting adalah kalau bisa (dan sepertinya harus bisa, atau lebih tegasnya saya memaksa) bagi para tim sukses untuk menemukan cara yang lebih elok untuk berkampanye dengan tidak mengotori kota Bandung. Jangan jadikan taman kota jadi taman spanduk!

Tolong perhatikan sekali lagi! Perhatikan sekali lagi! Indahkah tempat yang ramai dengan spanduk dan baliho ini? Bersihkah tempat-tempat tersebut? Semoga Anda sekalian dapat memahami perasaan saya hingga minimal

nya hati kecil Anda sekalian bergumam “tidak” dan maksimalnya Anda sekalian mau melepaskan spanduk-spanduk dan baliho yang tak pada tempatnya serta memikirkan cara yang lebih bersih dalam berkampanye. Bagaimana caranya? Silahkan pikirkan sendiri!

Sebagai informasi saja, saya belum menentukan pilihan kepada siapa saya akan memberikan suara saya. Jika Anda sekalian berpikir bahwa 1 suara dari saya sangat berarti, silahkan memperebutkannya dengan berkampanye baik, bersih, dan tentunya bisa dipertanggungjawabkan setelah Anda menjadi pemimpin nanti. Yakinkan saya kalau saya memang layak memilih Anda.

Akhir kata, saya ucapkan selamat meyakinkan warga Jawa Barat untuk memilih Anda.

Terima kasih.

Wassalam

spanduk 5

spanduk1

spanduk2

spanduk3

spanduk 7

spanduk 6

Categories: Artikel Tags: , ,

Kebahagiaan Kecil

Beberapa hari terakhir ini aku selalu mencoba untuk menulis, tetapi seiring dengan buntunya otakku, maka buntu pula kalimat yang sedang aku tulis. Tak puas, lalu aku hapus kembali. Tak bagus, lalu aku delete.

Apa kiranya yang membuat imajinasi-imajinasi yang ingin aku tumpahkan melalui kata-kata ini selalu terjegal di tengah jalan, lebih parah lagi…ia malah sering terjegal di kalimat pertama.

Ada apa ini?

Ada apa ini?

Aku bukanlah penulis cerita rumit.

Gaya bahasaku begitu popular kukira

Namun, apa yang membuat mereka tak mengalir seperti dulu…

Ah ya… otakku tidak jernih

Ibarat sungai yang tercemar oleh sampah dan limbah

Air pun menjadi butek dan mereka tak bisa bebas bergerak…

Kukira itu juga yang terjadi di otakku.

Penuh oleh pemikiran yang menyiksa

yang mungkin tak perlu dipikirkan…

Rasa sedih yang menghalangi syaraf-syaraf untuk meloncatkan impuls kebahagian.

Kebahagian yang tertahan yang membuat imajinasi pun tak kunjung datang

Imajinasi yang mati yang membuat kata-kata pun seolah ogah bermain dengan riang.

Dulu aku tak seperti ini!

Dulu aku tak seperti ini!

Ah… karena dulu sedih tak merajai otakku. Aku bisa menempatkannya sebagai prajurit saja. Dia harus ada, tapi tak boleh menguasaiku.

Namun, sekarang prajurit itu sepertinya sudah naik tahta menjadi raja mungkin juga ia memperistri kesedihan lainnya hingga beranak-pinaklah kesedihan itu dalam diriku.

Halo para kebahagian!

Ayo bertempurlah lagi…

Ayo kebahagian-kebahagian kecil berkumpulah lagi!

Merapat! Merapat! gempurlah kesedihan

gulingkan ia! tapi jangan musnahkan ia.

Karena aku tetap perlu ia agar aku tetap seimbang.

Para kebahagian kecil…

temuilah aku kembali

dalam tawa-tawa riang…

dalam jiwa-jiwa ceria

Tak peduli berapa pun usiaku…

Kebahagiaan kecil… buatlah aku tertawa lagi!

Categories: PUISI Tags: ,

Sambut Jiwa Kembali

Sebenarnya apa yang hilang itu?

Sesuatu yang meraksuki diri

lalu menyeret jiwa dan semangat

melenyap ditelan ketakutan

ditelan pikirannya sendiri.

Sekarang…

Segalanya seperti berserakan

Entah bagaimana merapikannya…

Tapi,

Entah bagaimana aku harus merapikannya…

Ya,

Jiwa yang lenyap itu harus kembali ditemukan

Setelah hadir, ia harus segera dihidupkan kembali

Dan ia harus kembali diyakinkan

Bahwa di masihlah

Sebuah jiwa yang hangat

Yang menggelora…

Dia masih hidup!

Masih hidup!

Categories: PUISI Tags:

Perubahan bentuk kata kerja

Melanjutkan pelajaran sebelumnya mengenai perunahan bentuk kata kerja ke dalam bentuk 아/어요. Kali ini saya buat video tutorialnya lagi untuk kata yang berakhiran 하다, 이, dan 으.

Semoga bermanfaat! Selamat belajar!

Melankolisme

Melankolisme ini begitu dingin dan mendung

Mirip masa penghujan saat ini

Jalanan terasa lengang

Jalinan terasa sepi

Melankolisme ini begitu hidup

Walau kucoba untuk membunuhnya

Ah… aku hanya perlu hidup saja

Categories: PUISI Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: